Peran ATC dalam stabilized approach
Ditulis oleh Fadjar A. Nugroho   
Sabtu, 20 Juni 2009 18:25

Tulisan ini adalah satu dari serangkaian tulisan mengenai stabilized approach. Artikel yang terkait adalah:

Unstabilised approach dikenal sebagai penyebab berbagai kecelakaan fatal yang biasanya lalu disebut karena human error. Kecelakaan Lion Air di Solo pada 30 September tahun 2004 dan Garuda di Jogja 7 Maret 2007, yang berakibat ditahannya penerbang di penjara adalah contoh bahayanya unstabilised approach. Rangkaian tulisan ini menggunakan banyak istilah teknis penerbangan yang tidak diterangkan maksudnya, karena sasaran pembaca adalah para profesional di bidang penerbangan dan peminat dirgantara yang mengenal istilah penerbangan. Bagi pembaca awam dimohon untuk mencari sendiri arti istilah-istilah tersebut baik di situs ilmuterbang.com ataupun situs yang lain.

Peran ATC

Peran ATC dalam membantu pilot untuk melakukan stabilised approach ini diterjemahkan secara bebas dari sebuah dokumen yang berjudul STABILISED APPROACHES GOOD PRACTICE GUIDE yang dikeluarkan oleh badan keamanan penerbangan sipil Perancis.

Meskipun beberapa contoh kasus adalah pada penerbangan yang membahas penerbangnya, tulisan ini mencoba lebih menitikberatkan peran ATC terutama yang dilengkapi radar dalam membantu pilot melakukan approach, dan pada bandar udara yang memiliki lebih dari satu landasan.

Makin banyaknya maskapai penerbangan yang beroperasi mengakibatkan jenuhnya lalu lintas udara terutama di fase approach dan juga polusi suara di sekitar bandar udara. Untuk mengurangi waktu approach dan suara berisik yang dihasilkan pesawat maka banyak negara menerapkan prosedur Noise Abatement. Dengan prosedur ini, maka pesawat diharapkan turun dari ketinggian jelajah mendekati bandar udara tujuan dengan mesin pada posisi idle sehingga menurunkan intensitas suara mesin.

Di beberapa bandar udara yang super sibuk, ada yang dikenal dengan nama CDA, Continuous Descent Approach. Pesawat dipandu radar dengan sasaran agar pesawat tidak terbang level tapi tetap pada keadaan descend. Jika pun harus terbang level maka approach dimulai pada ketinggian yang lebih dari biasanya. Misalnya di bandar udara di Hongkong, ILS approach di mulai pada ketinggian 4500 kaki. Sedangkan biasanya platform height ini adalah 1500-2000 kaki.

Terakhir Diperbaharui Rabu, 24 Juni 2009 17:56
Selanjutnya...
 
Peran Flying school dalam mengenalkan stabilized approach
Ditulis oleh Fadjar A. Nugroho   
Sabtu, 20 Juni 2009 07:18

Cessna 172Tulisan ini adalah satu dari serangkaian tulisan mengenai stabilized approach. Artikel yang terkait adalah:

- Peran ATC dalam stabilized approach

- Peran perusahaan penerbangan dalam membuat prosedur tentang stabilized approach

- Approach yang aman

Unstabilised approach dikenal sebagai penyebab berbagai kecelakaan fatal yang biasanya lalu disebut karena human error. Kecelakaan Lion Air di Solo pada 30 September tahun 2004 dan Garuda di Jogja 7 Maret 2007, yang berakibat ditahannya penerbang di penjara adalah contoh bahayanya unstabilised approach. Rangkaian tulisan ini menggunakan banyak istilah teknis penerbangan yang tidak diterangkan maksudnya, karena sasaran pembaca adalah para profesional di bidang penerbangan dan peminat dirgantara yang mengenal istilah penerbangan. Bagi pembaca awam dimohon untuk mencari sendiri arti istilah-istilah tersebut baik di situs ilmuterbang.com ataupun situs yang lain.

Penerbangan Cessna 172

Beberapa waktu lalu penulis sempat menjadi observer sebuah penerbangan latihan dengan pesawat Cessna 172 di luar Indonesia. Penerbangan ini dilakukan oleh seorang siswa dan seorang instruktur yang sangat senior dilihat dari usianya. Instruktur ini dikenal sebagai instruktur yang sangat disukai oleh siswa. Sifatnya yang relaks, tidak banyak komentar membuat siswa tidak mengalami stress pada waktu melakukan penerbangan dengan beliau.

Terakhir Diperbaharui Sabtu, 20 Juni 2009 18:34
Selanjutnya...
 
Peran perusahaan penerbangan dalam membuat prosedur tentang stabilized approach
Ditulis oleh Fadjar A. Nugroho   
Sabtu, 20 Juni 2009 07:59

Tulisan ini adalah satu dari serangkaian tulisan mengenai stabilized approach. Artikel yang terkait adalah:

Unstabilised approach dikenal sebagai penyebab berbagai kecelakaan fatal yang biasanya lalu disebut karena human error. Kecelakaan Lion Air di Solo pada 30 September tahun 2004 dan Garuda di Jogja 7 Maret 2007, yang berakibat ditahannya penerbang di penjara adalah contoh bahayanya unstabilised approach. Rangkaian tulisan ini menggunakan banyak istilah teknis penerbangan yang tidak diterangkan maksudnya, karena sasaran pembaca adalah para profesional di bidang penerbangan dan peminat dirgantara yang mengenal istilah penerbangan. Bagi pembaca awam dimohon untuk mencari sendiri arti istilah-istilah tersebut baik di situs ilmuterbang.com ataupun situs yang lain.

Alasan tidak go around

Banyak penerbang merasa atau menganggap melakukan go around adalah manuver yang memalukan. Entah dari mana dan sejak kapan adat istiadat ini berlaku, tapi harus disadari hal inilah yang terjadi saat ini. Akibat dari hal ini adalah pada saat penerbang mulai melakukan approach, yang ada di pikirannya adalah harus landing. Sehingga apapun yang terjadi penerbang akan memaksakan pesawat untuk mendarat. Apalagi dalam cuaca buruk.

Terakhir Diperbaharui Rabu, 24 Juni 2009 19:33
Selanjutnya...
 
Pertanyaan penerbangan
Ditulis oleh Admin   
Sabtu, 23 Mei 2009 13:30

selamat malam.
saya mahasiswa tingkat akhir fakultas hukum ugm, dan saya sedang mengerjakan skripsi yang berkaitan dengan kecelakaan pesawat terbang.

yang mau saya tanyakan (sebagai bahan persiapan sebelum melakukan penelitian),
1. siapa-siapa saja yang terlibat dalam pengoperasian penerbangan pesawat terbang yang aman dan selamat, mulai dari persiapan pesawat, penerbangan, hingga pendaratan, baik langsung maupun tidak langsung.
2. apa saja yang menjadi tanggungjawab/peran dari masing-masing pihak tersebut diatas?
3. tolong jelaskan SOP dari masing-masing pihak tersebut di dalam melakukan tugas dan tanggungjawabnya.

atas perhatian saudara admin, saya ucapkan terima kasih atas bantuannya, demi pengembangan ilmu pengetahuan dalam penerbangan itu sendiri ataupun dalam ilmu hukum, khususnya ilmu hukum pidana.

Halo,

Terima kasih telah mengirim email pada kami. Pertanyaannya sebenarnya sangat luas sekali, tapi akan kami coba jawab dengan asumsi pesawat ini adalah pesawat komersial berjadwal.

Pesawat komersial berjadwal tunduk pada peraturan keselamatan CASR part 121. Kami lampirkan aturan ini bersama dengan email ini.

Silahkan download aturan terbaru di : http://hubud.dephub.go.id/?id+regulasi_dsku+detail+keselamatan
 
1. Bisa dilihat di CASR 121 tersebut. Secara garis besar ada 2 departemen yang harus ada di sebuah perusahaan penerbangan. Flight Operation dan Maintenance.
Personel yang harus ada adalah: (part 121.59 hal 14)
  • (1)Managing or President Director
  • (2) Director of Safety (company aviation safety officer)
  • (3) Director of Operation
  • (4) Director of Maintenance
  • (5) Chief Pilot
  • (6) Chief inspector
  • (7) Chief Flight attendant (Director of cabin safety) (if applicable)
  • (8) Other supervisory positions required.
Kemudian ada Pilot, Flight Attendant, Flight Operation Officer/Dispatch, Aviation Security Personel dan lainnya yang ada di bawah masing-masing posisi tersebut dan akan bergantung pada besarnya perusahaan dan model yang dipakai oleh perusahaan. Contohnya perusahaan tempat saya bekerja memiliki semua personel yang dibutuhkan sedangkan perusahaan lain yang melakukan outsource di bidang maintenance hanya memiliki posisi kunci sedangkan maintenancenya sendiri akan dilakukan pihak ketiga.
Terakhir Diperbaharui Rabu, 24 Juni 2009 18:11
Selanjutnya...
 
Lowongan di Alfa Flying School
Ditulis oleh Alfa Flying School   
Selasa, 16 Juni 2009 14:33

Alfa Flying School mencari Instruktur Terbang (Flying Instructor) dengan syarat sbb:

1. Mempunyai Commercial Pilot Licence (CPL) Certificate + Instrumen Rating (IR) dan Flight Instructor Certificate. Lebih diutamakan bagi yang memiliki Cessna 172 Type Rating.
2. Memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik (TOEFL min. 450).
3. Memiliki jam terbang min. 400 jam
4. Memiliki loyalitas dan jiwa pengabdian terhadap pendidikan penerbangan di Indonesia

Lamaran bisa ditujukan by email ke Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Terakhir Diperbaharui Selasa, 23 Juni 2009 17:54
Selanjutnya...
 

Newsflash

Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di group www.ilmuterbang.com di:

Group ilmuterbang.com di Facebook.

Alfa Flying School mencari Instruktur Terbang (Flying Instructor) dengan syarat sbb:

1. Mempunyai Commercial Pilot Licence (CPL) Certificate + Instrumen Rating (IR) dan Flight Instructor Certificate. Lebih diutamakan bagi yang memiliki Cessna 172 Type Rating.
2. Memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik (TOEFL min. 450).
3. Memiliki jam terbang min. 400 jam
4. Memiliki loyalitas dan jiwa pengabdian terhadap pendidikan penerbangan di Indonesia

Lamaran bisa ditujukan by email ke nani@alfaflyingschool.co.id
Read more text
 

Kumpulan pengalaman penerbang dalam wawancara pekerjaan dapat anda baca antara lain di :

www.willflyforfood.cc/

www.futureairlinepilot.com/

www.aviationinterviews.com

 
Internet Sehat

Login Form



Pengunjung

Kami memiliki 11 Tamu online