Anda disini:

Bahaya Pada Penerbangan/Operasi helikopter Bagian-2 “Rotor Downwash”

Untuk dapat terbang, sebuah helikopter menghasilkan gaya angkat dari putaran rotor bladenya. Putaran rotor ini juga menghasilkan rotor downwash. Rotor downwash adalah perubahan arah aliran udara sebagai akibat aksi aerodinamik rotor. Gambar di bawah sebagai contoh, menunjukkan arah dan besarnya downwash pada helikopter EH101/AW101 ketika sedang hover di atas permukaan keras.

Dari gambar di atas terlihat bahwa aliran udara keluar rotor (downwash) dihembus ke bawah kemudian menyebar ke segala arah (pada kondisi tidak ada angin). Pada gambar velocity magnitude, juga dapat terlihat ternyata ada aliran udara yang tersirkulasi dan berputar tepat di bawah helikopter. Downwash akan berbanding lurus dengan besarnya lift, maka semakin besar dan berat helikopter, maka downwashnya akan semakin besar juga. Apakah downwash ini dapat menimbulkan potensi bahaya? Tentu saja.

Kalau kita kembali lagi ke gambar yang menunjukkan velocity magnitude (besarnya kecepatan udara aliran), kecepatan aliran udara maksimum yang bisa dihasilkan helikopter AW101 ini bisa sampai 100ft/s , 68km/jam atau hampir 60knots. Kecepatan udara sebesar ini bisa mematahkan ranting pohon, bahkan pada beberapa kasus ekstrim, downwash dari helikopter besar yang sedang hover taxi di sebuah bandara, bisa membalikkan sebuah pesawat kecil yang sedang diparkir dengan mudah.

Selengkapnya...

Bahaya Pada Penerbangan/Operasi Helicopter Bagian - 1 “Dynamic Rollover”

Dynamic Rollover adalah tendensi helikopter untuk berguling pada salah satu roda atau skidnya sebagai poros putarnya. Dynamic rollover banyak terjadi ketika helikopter sedang hendak pick-up/naik dari tanah menuju hover atau sedang hovering. 

“Dynamic Rollover”

Dynamic rollover dapat terjadi karena beberapa hal seperti :

  • Lupa melepas tie-down atau ikatan dari skid (kaki heli) atau landing wheel (roda pendarat).
  • Skid atau wheel menabrak benda ketika hover menyamping. Misalnya menabrak dan tersangkut pagar, tersangkut rambu/airport sign, tanaman, dsb.
  • Skid/wheel tersangkut pada es, aspal lembek, lumpur, rawa-rawa , dsb.
  • Tidak menggunakan teknik yang sesuai ketika landing atau take off pada operasi di tempat pendaratan yang miring , atau mendarat pada lerengan (slope landing).
  • Kesalahan penerbang (pilot error).

Agar dapat lebih mudah memahami dynamic rollover, kita kembali dulu pada konsep kestabilan dan kesetimbangan. Sebuah benda dikatakan stabil apabila benda tersebut diberi gangguan maka secara alami benda tersebut akan kembali pada kondisi kesetimbangan. Komponen yang ada pada konsep kestabilan dan kesetimbangan adalah :

  • a) Titik pusat massa (center of mass) : yaitu sebuah lokasi pada suatu benda yang dapat mewakilkan seluruh massa dari benda tersebut apabila diganti menjadi sebuah titik. Karena pengaruh gaya gravitasi pada benda tersebut juga akan diwakilkan menjadi gaya pada titik pusat massa, maka kemudian muncul istilah titik berat (center of gravity) *pada single body mass.
  • b) Gaya (force).
  • c) Panjang lengan (lever).
  • d) Momen/Torsi : yaitu gaya dikali panjang lengan.
  • e) Pivot point (titik/sumbu putar).
  • f) Critical angle : sebuah angka sudut, yang apabila dilebihi besarnya maka sebuah sistem tidak bisa kembali pada kondisi kesetimbangan.
Selengkapnya...

Autorotation ( Bagaimana Helicopter Terbang Tanpa Tenaga Mesin )

Apa yang akan terjadi ketika sebuah helikopter mengalami kegagalan mesin (engine failure) ketika sedang terbang? Apakah akan jatuh begitu saja ke bawah, atau seperti pesawat fixed wing yang bisa melayang di udara tanpa tenaga dari mesin? Jawabannya adalah tidak akan jatuh begitu saja tetapi juga tidak melayang seperti fixed wing. Dalam hal ini yang bisa dilakukan helikopter adalah autorotation.

Autorotation adalah keadaan pada waktu terbang di mana main rotor (baling-baling utama) dari sebuah helikopter diputar oleh aksi dari udara, bukan diputar oleh tenaga mesin. Gambar di bawah ini menunjukkan perbedaan terbang normal, -normal powered flight-, dengan autorotation.

 

Pada normal powered flight, udara dihisap ke main rotor system dari atas dan dihembuskan ke bagian bawah rotor. Pada autorotation, udara masuk ke main rotor system dari bawah sebagai akibat helikopter turun dari ketinggian. Berbeda dengan fixed wing, pada rotary wing (helicopter, gyrocopter, dsb) selama rotor berputar di atas batas putaran minimum maka akan menghasilkan gaya aerodinamik lift (gaya angkat) dan thrust (gaya dorong) walaupun pada low airspeed bahkan zero airspeed. Apakah besarnya gaya aerodinamik ini sama ketika main rotor system diputar oleh tenaga mesin? Tentu saja berbeda karena kini kita hanya punya energi yang terbatas untuk memutar main rotor, sehingga ada kemudian istilah manajemen energi pada autorotation.

Selengkapnya...

Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di grup FB ilmuterbang.com di:



Gunakan fasilitas cari di FB dengan kata kunci ilmuterbang.com 

Follow @ilmuterbang

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com

Pengunjung

Kami memiliki 85 tamu dan tidak ada anggota online

Go to top