| Terbang malam bagian 1: Penglihatan Manusia |
| Ditulis oleh Fadjar Nugroho | |||
| Rabu, 10 Maret 2010 17:17 | |||
|
Apa dan bagaimana terbang malam ini akan diuraikan untuk menambah pengetahuan, keamanan dan keselamatan penerbangan baik siswa penerbang maupun penerbang profesional yang merupakan rangkuman dari 2 buah buku dari US FAA dan New Zealand CAA yang tautannya ada di bagian akhir tulisan ini. Pengetahuan terbang malam ini juga bisa dipakai untuk mengemudi di malam hari dengan lebih aman bagi pembaca selain penerbang. Penerbang dengan Instrument rating juga dapat memanfaatkan artikel ini untuk refreshing pelajaran yang berhubungan dengan human factor. Penulis tahu bahwa pelajaran seperti ini sangatlah membosankan jadi kami usahakan membuatnya dengan kata-kata yang lebih santai. Yang perlu selalu diingat setiap waktu adalah: AVIATE – NAVIGATE - COMMUNICATE Tulisan ini dibagi 5 bagian:
Penglihatan manusiaManusia pada dasarnya tidak diciptakan sebagai makhluk malam (nocturnal creature). Segala kegiatannya dilakukan pada siang hari. Akibatnya banyak kelemahan alami manusia terutama pada bagian mata jika bekerja pada malam hari. Dengan mempelajari cara kerja penglihatan manusia, maka kita bisa mengembangkan kemampuan melihat di malam hari. Apa yang dilihat manusia sebenarnya adalah kerja mata dan pikiran. Keduanya harus bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Kerja mata dibahas di bagian Penglihatan Manusia, sedangkan kerja pikiran dibahas di bagian Ilusi. Hal lain adalah, kerja mata sangat berbeda dalam kegelapan, sehingga kita tidak bisa menggunakan mata kita dengan cara yang sama dengan cara menggunakannya pada siang hari. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui konstruksi dari mata dan bagaimana mata dipengaruhi oleh kegelapan. Cones dan RodsAda dua syaraf mata yang sensitif terhadap cahaya. Yang satu bernama cones sedangkan yang satu lagi bernama rods. Dalam gambar diperlihatkan bahwa cones dan rods adalah sebuah lapisan yang ada di retina dan berhubungan langsung dengan sel syaraf optik. Cones berada titik di tengah retina sedangkan rods berada di sekeliling cones. Fungsi cones adalah mendeteksi warna, detil dan benda yang jauh. Sedangkan rods berguna untuk melihat benda yang ada di sekitar daerah penglihatan mata. Rods tidak memberikan informasi warna atau detail, tapi berguna untuk mendeteksi benda terutama yang bergerak. Rods juga hanya memberikan informasi dalam bentuk bayangan abu-abu. Penglihatan dengan rods ini disebut peripheral vision. Kedua syaraf ini bekerja sama untuk melihat baik siang maupun malam. Rods memungkinkan kita untuk melihat dengan lebih jelas pada malam hari. Tapi karena letaknya yang tidak di tengah menyebabkan perbedaan cara melihat dalam gelap. Untuk melihat pada kegelapan kita tidak menggunakan titik fokus yang biasa kita pakai pada waktu terang. Kita memakai bagian sisi (pinggir) dari penglihatan untuk melihat (off-center viewing). Penerbang harus berlatih untuk menggunakan off-center viewing ini dengan cara scanning motion, melihat dari satu sisi ke sisi yang lain. Pada siang hari yang terang kita bergantung pada titik tengah penglihatan karena ada semua informasi warna, detil dan melihat benda yang jauh. Sedangkan peripheral vision yang menggunakan rods dipakai untuk membedakan benda secara umum dan benda yang bergerak serta untuk membiasakan dengan tingkat terangnya cahaya. Adaptasi mata bagi penglihatan di waktu malam adalah aspek yang penting. Ketika kita memasuki ruangan yang gelap, seperti pada waktu memasuki bioskop, akan sangat sulit bagi kita untuk melihat sampai mata kita beradaptasi pada kegelapan. Pada saat itu pupil mata membesar untuk mendapatkan sebanyak mungkin cahaya. Setelah 5 sampai 10 menit, cones sudah beradaptasi dengan cahaya dan mata kita menjadi 100 kali lebih sensitif daripada sebelum kita masuk ke ruangan gelap tadi. Rods membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi, sekitar 30 menit. Tapi setelah rods beradaptasi, sensitifitasnya menjadi 100.000 kali lebih sensitif. Proses ini akan berbalik pada saat kita melakukan hal sebaliknya, dari ruang gelap ke ruang terang.
Melihat dengan peripheral visionKarena kerja rods yang baik untuk kegelapan dan melihat benda yang bergerak, maka penggunaan peripheral vision adalah teknik yang digunakan untuk melihat dalam kegelapan. Penglihatan dengan titik tengah (central vision) masih dipakai untuk membaca chart dan instrumen pesawat. Untuk mendapatkan penglihatan yang maksimal pada malam hari ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
Jika tidak ada objek untuk dilihat Pada waktu mata tidak fokus pada sesuatu, lensa mata akan menjadi relaks dan tidak berakomodasi. Lalu dengan posisi yang tidak berakomodasi ini, fokus penglihatan hanya berada di satu atau dua meter di depan mata (empty visual field myopia). Jadi pada waktu melihat angkasa yang gelap sebenarnya mata anda hanya melihat 2 meter ke depan. Hal ini juga bisa terjadi pada saat mencari sebuah pesawat di angkasa yang kosong tanpa awan pada waktu terbang malam. Satu-satunya cara menanggulanginya adalah dengan mencari benda yang bisa dilihat yang jaraknya lebih dari 6 meter. Efek ini lebih kuat pada penerbang berkacamata apalagi dengan bifocal atau trifocal. Bersambung..... Sumber: http://www.caa.govt.nz/safety_info/GAPs/Night_VFR.pdfhttp://www.faa.gov/library/manuals/aircraft/airplane_handbook/media/faa-h-8083-3a-5of7.pdf
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Selasa, 25 Mei 2010 13:02 |
Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di group www.ilmuterbang.com di: |