Terbang malam bagian 2a: Ilusi

Cara yang paling baik untuk terbang malam VFR adalah sering-sering melihat pada instrumen untuk mengurangi ilusi yang dirasakan oleh tubuh kita biarpun cahaya di luar pesawat cukup untuk melihat keluar. Hal ini karena ilusi visual dan ruang dapat memberi informasi yang salah pada otak dan  pada saat yang bersamaan referensi visual di luar pesawat bisa saja tiba-tiba hilang. Pengetahuan tentang ilusi-ilusi ini dapat menghindari kejadian yang tidak kita inginkan.

Pada tahun 2000, sebuah Airbus A320 milik Gulf Air, jatuh ke laut setelah melakukan go around dan mencoba mendarat kembali dalam cuaca yang cerah. Penyelidikan menyimpulkan selain tidak mengikuti SOP, kemungkinan penerbangnya mengalami somatogravic illusion yang akan diterangkan di bagian 2b dari tulisan ini.

(sumber: http://www.bea.aero/docspa/2000/a40-ek000823a/htm/a40-ek000823a.html)

Sebelum kita mulai membahas semua ilusi ini ada baiknya anda mengingat cara yang paling baik untuk menghindari ilusi-ilusi tersebut: Sering-sering lihat instrumen anda dan percaya pada instrumen!.

Ilusi Visual

Pantulan/Reflection

Peta/chart yang diletakkan di atas panel instrumen dapat terlihat pantulannya di kaca depan dan memberikan efek yang menyesatkan. Hal ini terutama sangat mungkin pada helikopter yang memiliki acrylic windshield (“kaca” depan dari acrylic) yang luas dan bisa memberikan cerminan gambar yang bisa disangka sebagai bagian dari pemandangan di luar.

Flicker Vertigo

Lampu yang berkedip (strobe light) juga efek kedipan dari baling-baling atau rotor blade dari helikopter bisa membuat disorientasi. Mematikan lampu strobe bisa mengurangi efek ini.

Pengukuran jarak

Kemampuan pengukuran jarak atau kedalaman sangat berkurang pada cahaya yang lemah. Terutama jika benda yang terlihat adalah sebuah sumber cahaya yang tidak mempunyai bandingan untuk ukurannya. Contohnya mungkin seperti ini, di malam yang pekat, obor di kejauhan akan terlihat sama dengan sebuah lilin yang dekat.

Auto-kinesis

Auto kinesis artinya bergerak sendiri. Tipuan ini terjadi jika kita menatap sebuah sumber cahaya yang berlatar belakang kegelapan tanpa cahaya di sekitarnya dan tanpa ada pemandangan lain. Contohnya jika kita menatap sebuah bintang yang terang atau sebuah lampu di darat maka setelah beberapa saat bintang atau lampu tersebut akan terlihat bergerak atau bergoyang dan bisa disalah-artikan sebagai sebuah pesawat. Untuk menghindari ilusi ini, jangan fokuskan mata anda pada cahaya tersebut tapi lihat ke satu sisi dengan menggunakan peripheral vision dan kembangkan penglihatan anda ke daerah yang lebih luas.

Cahaya bintang dan cahaya di darat yang membingungkan

Bintang ada di atas, daratan ada di bawah, kenapa bingung? Atas dan bawah adalah persepsi yang diterima otak dari penglihatan kita. Jika penglihatan kita salah menterjemahkan apa yang kita lihat maka akan terjadi kesalahan pemahaman otak. Contohnya jika terbang di atas laut di malam yang gelap dan horison/cakrawala tidak terlihat, maka tidak ada batas antara angkasa dan air.

Bintang, bayangan bintang dan lampu dari perahu nelayan akan terlihat tanpa batas. Cahaya di laut dari pantulan bintang dan lampu perahu nelayan bisa terlihat seperti bintang di atas. Akibatnya penerbang akan merasa pesawatnya mendongak dan akan menurunkan hidung pesawat. Atau pesawat terasa seperti miring ke satu arah. Lihat instrumen sesering mungkin untuk menghindari ilusi ini. Begitu pula jika awan overcast menutupi cahaya bintang. Bagian yang gelap dari pegunungan dapat terlihat seperti angkasa yang kosong.

Sepertinya kita  terbang lurus, padahal pesawat  sedang terbang miring ke kanan

Black Hole

Pada waktu terbang mendekati sebuah landasan bercahaya yang berada di daratan tak bercahaya atau misalnya sebuah landasan yang dikelilingi oleh permukaan air yang gelap, maka penerbang akan susah mengorientasikan dirinya relatif terhadap bumi. Hal ini dikenal dengan istilah Black Hole.

Pada saat mengalami black hole ini, penglihatan peripheral/peripheral vision tidak bisa digunakan untuk mengkira-kira jarak terhadap daratan.

Landasan bisa terlihat up-slope (menanjak) atau down-slope (menurun). Kasus yang paling sering terjadi adalah pesawat mencapai daratan sebelum sampai ke landasan.

Lampu kota atau lampu di dataran tinggi setelah landasan bisa memberi ilusi bahwa pesawat terlalu tinggi, akibatnya pesawat mendarat sebelum mencapai landasan

Pada keadaan seperti ini penerbang harus mengandalkan semua yang ada seperti lampu VASI/PAPI, penunjuk Glide Slope dari ILS kalau ada dan petunjuk yang lain seperti DME.

Jika VOR/DME berada dekat landasan maka sebuah rule of thumb seperti 1000 feet untuk setiap 3 mile bisa digunakan. Jadi misalnya anda berada di 5000 feet maka bacaan DME yang sesuai adalah 15 nm, untuk 2000 feet = 6 nm dan seterusnya. Jadi kalau misalnya anda di 500 feet dengan jarak 3 nm, maka pesawat anda terlalu rendah karena harusnya anda berada pada jarak 1.5 nm.

Sesuaikan rule of thumb ini dengan kinerja pesawat anda.

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com
Go to top