Artikel Penerbangan Teori Penerbangan Pengetahuan Aeronautik dasar untuk PPL/FOO/Teknisi Aeronautical Decision Making: Bagian 3. Manajemen stress
Aeronautical Decision Making: Bagian 3. Manajemen stress
Ditulis oleh Fadjar Nugroho   
Selasa, 07 Desember 2010 04:08

“Gue stress nih mau ujian...” Kalau mendengar kalimat tersebut, pasti yang terbayang adalah seseorang dengan penampilan kusut, susah makan, tidak keluar kamar karena belajar, gampang marah, sensitif dan lain sebagainya.

Apakah stress selalu memberikan efek yang jelek pada seseorang? Anda bisa simak sepenggal cerita dari penulis yang mengalami indikasi engine fire karena mesin pesawatnya kemasukan burung.

“Suatu hari jam 1 malam, kami lepas landas. Sesaat setelah lepas landas, ada pesan di layar instrument pesawat Airbus A330 yang cukup canggih ini. “ENG 2 Fire Loop A fault”, karena salah satu loop pendeteksi kebakaran di mesin no 2 pesawat tidak berfungsi. Dengan kerusakan loop A ini kami masih punya Loop B, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Melewati 2000 kaki, indikasi suhu di mulut mesin jet no 2 (engine 2 nacelle) tiba-tiba berkedip dan menunjukkan suhu 350°C, padahal normalnya di bawah 200°C. Kami membuka Quick Reference Handbook yang biasa disingkat dengan QRH. Tertulis, jika suhu di atas 260°C maka parameter mesin yang lain harus dipantau.

Tidak ada yang aneh dengan parameter lain dari mesin no 2 ini. Putaran N1 (low pressure compressor) dan N2 (high pressure compressor) tidak menunjukkan hal yang aneh, begitu pula dengan suhu EGT (suhu mesin). Tapi dua kejadian di satu mesin membuat kami curiga.

Pada saat kami memeriksa aliran bahan bakar (FF, fuel flow) ada indikasi agak aneh, mesin kanan mengalirkan bahan bakar 300 kg/jam lebih banyak daripada yang kiri. Pasti ada yang salah dengan mesin no 2 ini.

Entah kenapa jantung saya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Melewati 10500 kaki, tiba-tiba alarm dari warning system memecah keheningan malam itu.

Engine Fire!...

Jantung saya terasa berhenti, first officer yang sedang menerbangkan pesawat langsung memberikan aba-aba “I have control and communication, ECAM action!” sebagai tanda untuk saya agar mulai melakukan langkah-langkah yang tertulis di layar ECAM (Electronic Centralized Aircraft Monitor).

Setelah menurunkan putaran mesin, dengan aneh status engine fire menjadi hilang, tapi stress belum berhenti karena indikasi adanya api adalah berbahaya bagi penerbangan, kami memutuskan untuk kembali secepat mungkin dan melakukan overweight landing karena kami tidak dilengkapi dengan fasilitas dumping fuel....”

Dari cerita di atas, stress yang kami alami cukup terkendali dan memberikan efek yang bagus dalam pengumpulan data dan pengambilan keputusan. Jadi stress tidak selalu memberikan efek yang jelek asal kita mengenal apa itu stress dan tahu bagaimana cara mengendalikan stress.


Anggota keluarga yang sakit bisa menambah stressStress

Stress yang dibicarakan disini adalah respon dari tubuh kita terhadap tekanan secara fisik maupun psikologikal. Reaksi dari tubuh ini termasuk kegiatan tubuh mengeluarkan hormon-hormon kimia seperti adrenalin ke dalam darah dan menaikan metabolisme untuk menyediakan energi yang lebih banyak ke otot. Stress yang dirasakan seorang penerbang bisa karena apa saja, dari menghadapi windshear sampai kehilangan dompet.

Seberapa banyak stress dalam hidup anda?

Kalau anda berharap bisa mengendalikan atau mengurangi stress pada pekerjaan anda terutama pengendalian krisis dalam penerbangan seperti cerita di atas, pertama kali anda harus mengenali dan menilai semua stress yang ada dalam hidup anda. Kehilangan pekerjaan, sakit serius, pindah rumah, anggota keluarga yang meninggal, kelahiran bayi dalam keluarga, adalah beberapa hal yang dapat membuat anda stress. Kemampuan kita untuk menghadapi atau adaptasi dari stress bisa bervariasi dari tahun ke tahun.

Anda dapat menggunakan daftar di bawah ini untuk mengenali stress yang ada. Berikan tanda check √ pada masalah yang terjadi pada anda selama 12 bulan terakhir.


No
Masalah
Ya/Tidak
berikan tanda chek √
01.
Pasangan meninggal dunia

02.
Bercerai

03.
Berpisah dengan pasangan

04.
Dipenjara

05.
Keluarga dekat meninggal dunia

06.
Terluka parah

07.
Menikah

08.
Kehilangan pekerjaan

09.
Rujuk dengan pasangan

10.
Pensiun dari pekerjaan

11.
Perubahan kesehatan dari seorang anggota keluarga

12.
Kehamilan

13.
Masalah seksual

14.
Ada anggota baru keluarga

20.
Budget, jadwal, deadline dari usaha anda

16.
Perubahan keadaan finansial

17.
Anggota keluarga yang terjebak narkoba atau alkohol

18.
Teman dekat meninggal dunia

19.
Perubahan alur kerja

20.
Berseteru/berargumen dengan istri/suami/partner

21.
Pinjaman/kredit lebih dari 100 juta (10 ribu USD)

22.
Melunasi kredit/pinjaman

23.
Perubahan tanggung jawab dalam pekerjaan

24.
Anak meninggalkan rumah

25.
Masalah dengan ipar atau keluarga dari pasangan anda

26.
Mendapat prestasi besar

27.
Istri/suami/pasangan mulai/berhenti bekerja

28.
Anda mulai/berhenti bekerja

29.
Perubahan kondisi hidup

30.
Perubahan kebiasaan hidup

31.
Masalah dengan bos atau instruktur

32.
Perubahan jam kerja atau kondisi

33.
Pindah rumah

34.
Pindah sekolah

35.
Perubahan aktivitas rekreasi

36.
Perubahan aktivitas keagamaan

37.
Perubahan aktivitas sosial

38.
Pinjaman/kredit kurang dari 100 juta (10 ribu USD)

39.
Perubahan kebiasaan tidur

40.
Perubahan jumlah acara keluarga

41.
Perubahan kebiasaan tidur

42.
Liburan

43.
Hari raya (Lebaran/Natal)

65.
Kena tilang

Makin banyak perubahan/masalah dalam kehidupan anda maka makin banyak penurunan yang terjadi pada kesehatan anda. Secara umum, jika anda menandai lebih dari 20 masalah pada bagian atas dari daftar berarti anda kemungkinan 80% berada dalam masalah kesehatan yang serius. Jika ada 20 lebih tanda yang tersebar pada seluruh daftar, kemungkinan 50% anda akan mendapat masalah kesehatan sebentar lagi. Setiap orang mempunyai batas sendiri-sendiri untuk menghadapi stress. Pada waktu kita melampaui batas ini maka hal ini akan menyebabkan berkurangnya kesehatan atau menyebabkan penyakit.

 

Apakah stress itu jelek?

Stress adalah respon dari keadaan yang menyebabkan perubahan dari pola fisik dan mental seorang penerbang yang akan memaksa penerbang tersebut beradaptasi terhadap perubahan itu. Stress adalah hal yang tidak bisa dihindari dan bagian yang diperlukan dalam hidup yang menambah motivasi dalam kehidupan dan meningkatkan respon penerbang pada waktu mendapat tantangan.

Pada dasarnya stress akan meningkatkan kinerja penerbang pada waktu mendapatkan stress tapi pada waktu stress sudah melewati ambang batas kemampuan penerbang tersebut maka kinerjanya akan jatuh dengan cepat.


Mengatasi stress pada waktu terbang

Kecelakaan biasanya terjadi pada waktu pekerjaan yang harus dikerjakan oleh penerbang lebih dari kemampuan penerbang tersebut. Penerbang yang baik akan menggunakan keputusan yang baik untuk menghindari situasi yang penuh stress yang memerlukan ketrampilan tinggi. Gambar di bawah menggambarkan sebuah contoh safety margin dalam sebuah penerbangan. Dalam gambar terlihat bahwa safety margin untuk penerbang tersebut berkurang pada waktu melakukan approach yang ideal. Dalam hal ini jika penerbang tersebut terkena flu atau kecapekan (fatigue) maka safety marginnya akan berkurang.


Stress tidak terasa.

Stress mempunyai efek yang berkembang secara perlahan dan bertambah, sehingga mungkin saja stress sudah ada sebelum terasa atau terlihat jelas. Seorang penerbang mungkin merasa sudah mengatasi semuanya dengan baik padahal hal itu sebenarnya merupakan tanda yang kurang terlihat bahwa ancaman stress sudah mencapai kemampuan maksimum penerbang tersebut untuk mengatasinya.


Stress bertambah secara kumulatif.

Reaksi terhadap stress secara umum akan keluar pada waktu terjadi akumulasi stress. Adaptasi alami dari penerbang terhadap stress ini mempunyai batas. Batas ini yang disebut dengan tingkat toleransi stress adalah berdasarkan kemampuan penerbang untuk menghadapi stress. Jika jumlah atau intensitas pemberi stress menjadi terlalu banyak maka penerbang akan rawan terhadap beban lingkungan yang terlalu berat baginya. Pada saat inilah kinerja penerbang akan menurun dan pengambilan keputusannya akan makin jelek.


Tanda-tanda tidak mampu menghadapi stress.

Indikator dari stress yang terlalu banyak biasanya dapat terlihat dari 3 gejala:

  • emosi,
  • fisik, dan
  • sikap.

Gejalanya akan berbeda tergantung apakah agresi dari stress ini keluar atau masuk ke dalam diri penerbang. Orang yang cenderung untuk melampiaskan perasaan agresifnya ke dalam dirinya biasanya akan terlihat depresi, tidak konsentrasi, sedih, dan menyerah. Sedangkan orang yang melampiaskan stressnya keluar akan mempunyai gejala fisik yang lebih sedikit. Sedangkan gejala emosi dapat berupa sikap berlebihan, penyangkalan, curiga, paranoia (penyakit jiwa), gelisah, khawatir, pembelaan diri, sensitif terhadap kritik, banyak alasan, sombong, benci, permusuhan.


Pengaturan stress dalam kehidupan.

Ada beberapa teknik yang membantu mengurangi stress dalam kehidupan dan membantu mengatasinya dengan lebih baik. Tidak semua dari ide-ide berikut menjadi pemecahan masalah dengan stress tapi beberapa dari ide-ide ini mungkin cukup efektif bagi anda.

  • Mempunyai pengetahuan tentang stress.
  • Menilai diri sendiri secara realistis.
  • Membuat pemecahan masalah yang sistematis.
  • Menjalankan gaya hidup yang dapat menahan efek dari stress.
  • Menjalankan teknik mengatur sikap/kebiasaan.
  • Membuat dan menjaga hubungan kuat dengan orang lain yang dapat mendukung anda.


Manajemen stress di kokpit.

Manajemen stress yang baik di kokpit dimulai dari manejemen stress di kehidupan sehari-hari yang baik biarpun cara mengatasi stress di kehidupan kita kadang-kadang tidak berlaku pada waktu mengatasi stress dalam penerbangan. Anda harus membuat diri anda santai dan berpikir rasional pada saat stress datang. Berikut beberapa hal yang dapat membantu:

  • Hindari situasi yang dapat mengganggu anda pada waktu menerbangkan pesawat.
  • Kurangi beban kerja untuk mengurangi tingkat stress. Meningkatkan lingkungan kerja yang mendukung pengambilan keputusan yang baik.
  • Pada waktu terjadi keadaan darurat, tetap kalem, pikir sejenak, timbang kemungkinan yang dapat diambil, baru kemudian beraksi.
  • Jaga kemahiran/ kecakapan anda tentang pesawat yang anda terbangkan. Kemahiran/proficiency dapat mengembangkan percaya diri. Kenali pesawat anda lebih dalam, semua sistemnya dan prosedur-prosedur darurat.
  • Kenali kelebihan dan kekurangan pribadi anda, batasan kemampuan anda.
  • Jangan terganggu dengan kesalahan yang sudah terjadi sehingga membuat masalah yang lebih besar. Tunggu sampai anda mendarat dan tinjau ulang dan analisa sendiri masalah yang terjadi.
  • Jika terbang membuat anda stress. Berhenti terbang atau cari psikolog untuk membantu anda mengurangi stress.


Kesiapan terbang

Sebuah keputusan “Go/No Go” selalu dilakukan sebelum sebuah penerbangan. Seorang penerbang tidak hanya memeriksa pesawatnya tapi juga memeriksa dirinya sendiri. Setiap kali dan pada semua penerbangan dia harus bertanya pada diri sendiri, “Akankah saya lulus  jika saya melakukan pemeriksaan kesehatan sekarang?” Jika dirinya tidak dapat menjawab “Ya” secara absolut, maka dia sebaiknya tidak terbang. Berikut adalah daftar yang dapat anda gunakan untuk memeriksa diri anda dan anda dapat salin dan masukkan di tas terbang anda.

  • Apakah saya sehat? Ada masalah?
  • Makan obat dalam 12 jam terakhir?
  • Minum alkohol?
  • Lelah? Tidur nyenyak tadi malam?
  • Dalam keadaan stress? Emosi?
  • Makan cukup baik? Cukup protein? Apakah ada makanan di pesawat?
  • Cukup cairan? Apakah perlu membawa cairan tidak berkarbonat seperti air dan jus?
  • Kaca mata hitam? Pelindung telinga? Pakaian layak?

Bersambung ke bagian 4

Terakhir Diperbaharui Senin, 14 Februari 2011 07:17
 

Newsflash

Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di page www.ilmuterbang.com di:


Gunakan fasilitas cari di FB dengan kata kunci ilmuterbang.com

Follow @ilmuterbang