Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| Proses penerimaan STPI |
| Ditulis oleh Fauzi Siregar | |||
| Rabu, 22 Februari 2012 07:00 | |||
|
Salam Penerbang.. Ini adalah cerita asli kehidupan saya dan saya berniat untuk membuat tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya. Saya asli dari Medan dan baru tamat SMA tahun 2011 (17 tahun). Sejak kelas 5 SD saya memang sudah ingin jadi pilot. Karena saya sekarang sudah lulus SMA saya mendaftar di sekolah penerbangan milik pemerintah yang ada di Curug, Tangerang yaitu STPI.
Setahu saya penerbang itu tidak tergantung pada berat badannya, yang penting kan tinggi (ralat: menjadi penerbang tidak harus tinggi. admin), hal itu membuat saya cukup frustasi selama beberapa minggu, tapi dari dalam diri saya merasa harus bangkit dan KESEMPATAN ITU TIDAK HANYA SEKALI SEUMUR HIDUP!! Sebagai informasi saya juga sudah lulus di Fakultas Kedokteran di Medan tapi tidak saya ambil karena memang itu bukan impian saya. Buat apa saya teruskan hal yang bukan impian saya karena takut berakhir dengan penyesalan. Di bulan Juli 2011 saya pindah ke Jakarta dan langsung daftar di sekolah pilot swasta di bandung yang baru buka, saya daftar buat batch II nya, semua tes (akademik, psikotes, IQ, kesehatan, dll) saya lalui dengan sempurna, bukannya sombong tapi saya masuk peringkat 1! hehehe...sehingga orang dari direksi sekolah itu menelepon saya dan minta saya supaya masuk batch yang pertama..nah lo...saya senang dong, bahkan katanya saya bakalan dijadikan ikon dari sekolah itu dan rencananya sekolah tersebut ingin menjalin kerja sama dengan maskapai pemerintah, sudah pada tau kan maskapai pemerintah kan paling bergengsi, Tapii... yaaahhh ada tapinya kaan.. itu sekolah penerbangnya mahal, biayanya saja sampai tamat 490 JUTA!!!
Pembayarannya bisa dicicil dari tahap ground school 20% = 98jt, tahap PPL 40% = 196jt, tahap CPL+IR40% = 196jt.. Katanya sih saya hanya perlu bayar tahap ground school dan PPLnya, dari situ akan mulai dibayari oleh maskapai yang mau mengontrak saya. Tapi kan totalnya masih 300 juta sampai PPL, sementara kemampuan orang tua saya lagi kandas banget. Padahal pas jaman saya masih SD itu nilai 300 juta itu tidak ada apa-apanya deh (bukannya menyombong), eh, giliran saya butuh biaya malah keluarga saya lagi pailit. Nasib banget dah. Anyway, pada bulan November 2011 saya dikejutkan dengan adanya SIPENCATAR (seleksi penerimaan calon taruna) gelombang 2 dari STPI Curug, so i have to try my luck in this moment again guys! Saya daftar sekali lagi di STPI ini, seingat saya sih pendaftaran dibuka tanggal 15-25 November, dan saya daftar tanggal 17, saat itu yang sudah daftar baru 5 orang dalam hati saya langsung berkata " ya Tuhan, semoga saingan saya dikit ya Tuhann pleasee.." Akhirnya tanggal 29 November 2011 saya mengikuti tes tahap 1 yaitu tes potensi akademik dan tes bakat skolastik atau apalah itu, saya juga lupa :p. Alhamdulillah soalnya sama seperti waktu saya test sipencatar gelombang 1 di Medan! Luar biasa saya bersyukur alhamdulillah rezeki saya masih ada, saya jawab soalnya dengan santai saja. Oh iya, yang ikut tes tahap 1 ini ada sekitar 140-150 orang, setelah selesai tes saya buru-buru pulang dan membuka buku untuk memeriksa jawaban yang saya buat apakah benar atau tidak. Alhamdulillah pada tanggal 3 desember 2011 saya melihat nama saya di papan pengumuman dan hanya tersisa 70 orang dari 150 orang peserta. I have to say thanks to you, my beloved Allah. TIPS Tes Tahap 1 :
Tes tahap 2 yaitu tes kesehatan 1, kesamaptaan, psikotes dan wawancara yang dimulai dari tanggal 7-9 desember 2011. Ini adalah tes-tes yang paling menguras otak, otot, mental. Saya akan jelaskan satu-persatu, yaitu :
Pengumuman tahap 2 yang agak lambat diumumkan membuat jantung saya mau copot karena saya gagal di sipencatar pertama itu di tahap 2 and Jreng..jreng..jreng~~ pada tanggal 14 December nama saya ternyata muncul di papan pengumuman guys!! Alhamdulillah banget yah dalem hati saya juga lega rasanya, tanggal 17 December saya disuruh ke Curug untuk daftar ulang dan mengambil surat pengantar tes kesehatan... Tanggal 19 saya pergi ke Balai Kesehatan Penerbang di Kemayoran, kelompok saya yang terdiri dari 14 orang disuruh hadir di tempat jam 08:00 pagi, walaupun agak telat saya tiba karena dari rumah saya (Cibubur) ke Kemayoran jauh + macet banget bro, tapi teman-teman saya sudah ada di tempat dan pas banget saya sampai pas disuruh daftar hehehe (luck again!), ini perincian test yang saya lakukan di Balai Kesehatan Penerbang :
Tips saya untuk tes kesehatan 2 :
Menurut jadwal pengumuman tes kesehatan 2 (tes tahap 3) ini harusnya tanggal 26 december 2011 tapi diundur terus karena dekat dengan tahun baru dan hal ini membuat saya semakin deg-degan membayangkan bagaimana hasil tes saya, dan Jreng..Jreng..Jreng.. Pada tanggal 9 Januari 2012 saya terkejut melihat nama saya ada di dalam nama peserta yang lolos ke tahap selanjutnya (tes bakat terbang). Wohoooo, dalam hati saya, okey, one more step. TES BAKAT TERBANG (Aptitude Test)TES BAKAT TERBANG (Aptitude Test) yang sangat saya nanti-nantikan akhirnya tiba, saya disuruh daftar ulang di STPI tanggal 12 Januari 2012 dan masuk mess tanggal 15 Januari 2012, sisa orang untuk tes bakat terbang yaitu 49 orang dan dibagi 3 kelompok yang kebetulan saya masuk di kelompok 1 yang terdiri dari 18 orang. Tanggal 15 sore saya masuk mess Elang di komplek STPI Curug, untungnya kelompok saya sudah mengenal satu sama lain sehingga tidak ada rasa segan seperti orang belum kenal. Malam hari kelompok saya langsung briefing untuk menentukan siapa yang akan menjadi danton untuk memimpin barisan untuk jalan ke hanggar dan teman saya Izhar yang terpilih menjadi danton. Besoknya pagi hari tanggal 16 Januari kelompok saya jam 6 pagi sudah berbaris di depan mess dan langsung saja berjalan ke arah flop stpi di dekat hanggar untuk menanyakan di mana briefing aptitude test akan dilaksanakan, setelah baris cukup lama akhirnya kelompok saya disuruh masuk ke suatu ruang kelas oleh senior. Di ruangan tersebutlah kelompok saya di-briefing oleh instruktur STPI. Isi briefing tersebut ialah pengenalan gaya-gaya yang terjadi pada pesawat, pembagian checklist dan modul pesawat Socata TB-10, transisi pesawat (cruise to climb, climb to cruise, cruise to descent, descent to cruise). Selesai briefing, kelompok saya langsung diarahkan ke hanggar untuk pengenalan kokpit pesawat TB-10 dan instrument-instrumentnya, yang buat saya terkejut ialah ternyata dihanggar masih ada kelompok dari gelombang 1! Setelah pengenalan kokpit di sore hari kelompok saya disuruh pulang dikarenakan jadwal terbang yang belum ada dan disuruh kembali ke mess pada tanggal 22 sore. Tes bakat terbang yang sesungguhnya pun saya jalankan pada tanggal 23 sore walaupun tanggal 23 saya belum mendapat jadwal untuk terbang dan ada hal yang mengejutkan lagi yaitu ternyata kelompok saya tes bakat terbangnya tidak menggunakan Socata TB-10 melaikan Beechcraft Sundowner, astaga pikir saya, padahal saya sudah menghafal setting power untuk climb, cruise, descent dan six main item (6 hafalan checklist) pada pesawat TB-10 tapi saya harus menghafal itu semua dari awal untuk tipe pesawat Sundowner, tanpa pikir panjang pada malam hari di mess saya lalui dengan menghafal ulang semua hal itu..
Tanggal 26 menjadi tanggal yang selalu saya kenang karena first flight saya terjadi pada tanggal ini, saya mendapat jadwal terbang pada jam 07.30 UTC atau sekitar jam 02.30 WIB, saya terbang bersama teman saya Oka Brian dan instruktur bang Nikoda yang juga pilot di maskapai nasional dengan pesawat PK-ANT. Saya mendapat bagian take-off sampai training area dan teman saya dari training area hingga kembali, saya mulai membaca checklist dimulai dari before starting check, ketika tangan saya memutar kunci hingga propeler pesawat berputar rasa excited dalam diri saya memuncak. Bang Nikoda menyuruh saya membawa pesawat sampai ke holding point disebelah runway, well saya cukup gugup ketika taxi menuju holding point (maklum belum terbiasa menginjak rudder pada pesawat, hehe) ketika mendapat clearence untuk line-up dengan runway, bang Nikoda pun meluruskan pesawat dengan runway, saya diam saja karena saya berpikir beliaulah yang akan menerbangkan pesawat sampai training area, tiba-tiba beliau berkata "lah? ya udah open powernya dong, mau nunggu sampai kapan tong?" serentak saya pun langsung open power hingga full throtlle dan saya ucapkan take off procedure "DGI set by compass, Altimeter set to zero, booster pump on, brake off, bismillah take off" Saya melepas brake dan RPM pesawat sudah mencapai 2500 RPM, kemudian beliau berkata lagi "ntar di 60 unstick ya" Sayapun berkata "Siap bang" ketika saya melihat ASI sudah di 60 mph (Sundowner menggunakan mph bukan knot) saya menarik control column tetapi pesawat tidak mau naik, saya tunggu di 70 mph dan control column saya tarik lebih ke belakang dan akhirnya pesawat naik, seketika sayapun langsung over excited sampai tidak sadar take off path sudah melenceng ke kiri hehehe, di training area saya langsung disuruh segala macam dimulai dari heading, climb, cruise, descent setelah itu sayapun bergantian dengan teman saya. Sedikit informasi setelah saya take off hujan lebat turun dan memaksa terbang pertama saya di 4000 feet, dan jujur saya ketakutan waktu landing karena pesawat goyangnya bukan main ketika descent menembus awan hujan hehe Terbang kedua saya terjadi pada tanggal 27 dan kembali saya terbang dengan teman saya Oka Brian, instruktur bang Nikoda dan PK-ANT. Kali ini gantian teman saya dapat bagian dari take off sampai training area dan saya dari training area hingga landing, tidak banyak beda pada terbang kedua hanya saja tidak ada hujan dan saya lebih menikmati terbang kedua saya walaupun banyak angin, satu hal yang buat saya senang yaitu saya mendapat kesempatan me-landing-kan pesawat di runway 30 Budiarto walaupun dibantu oleh bang Nikoda pada throtlle. Terbang ketiga (check) adalah terbang dengan instruktur senior yang saya jalani pada tanggal 1 Februari, lagi-lagi saya dapat jadwal terbang bersama dengan teman saya lagi si Oka Brian dan pesawat yang sama PK-ANT tapi dengan instruktur mas Dida saya duduk di belakang pesawat karena saya dapat bagian training area - landing. Teman saya membawa pesawat dari take off hingga area dan disuruh climbing turn and descending turn, tidak berapa lama gantian dengan saya, saya terbang di atas Serpong pada ketinggian 2000 feet, saya juga disuruh climbing turn, descending turn dan maintain altitude and heading secara visual tidak boleh liat instrument. Yang berbeda pada kali ini saya disuruh bawa pesawat dari area sampai landing hingga ke parking stand! Saya disuruh descent ke 1000 feet dan saya pun langsung menposisikan pesawat ke posisi right downwind runway 22 Budiarto, tapi ketika di base leg saya disuruh memutar sekali lagi karena ada pesawat Cessna yang sedang latihan touch and go, instruktur pun menyuruh saya memutar pesawat ke posisi right downwind sekali lagi kemudian di posisi base leg beliau menanyakan saya "bisa landing ga?" Saya jawab "siap belum bisa mas" Beliau membalas "ya udah coba aja, bisa kok pasti" dan sayapun langsung membelokkan pesawat hingga sejajar dengan runway (final) di radio saya mendengar "papa november tango, clear to land runway two two" dan mas Dida membalas "clear to land runway two two" Saya tetap saja fokus mensejajarkan pesawat dengan runway dan saya melihat tangan mas dida tidak memegang control column maupun throtlle, sayapun terkejut, itu berarti saya benar-benar yang akan mendaratkan benda ini. Tidak lama kemudian pun roda-roda pesawat menyentuh landasan walaupun landing saya termasuk hard landing karena lagi lagi belum ada pengalaman hehehe Tips Test Bakat Terbang :
Karena saya juga sedang menunggu pengumuman curug, mohon doakan saya agar diterima di angkatan 65 :) Great Pilot Aren't Just Born, They Are Trained Well
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Jumat, 24 Februari 2012 06:19 |
Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di page www.ilmuterbang.com di: Gunakan fasilitas cari di FB dengan kata kunci ilmuterbang.com Follow @ilmuterbang |