Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| Kondisi sekolah penerbangan di Indonesia |
| Ditulis oleh Fadjar Nugroho | |||
| Sabtu, 17 Mei 2008 18:56 | |||
|
Pekan ini kami mendapat 2 email dari pembaca www.ilmuterbang.com tentang sekolah penerbang di Indonesia. Satu berasal dari seorang siswa penerbang di salah satu sekolah penerbangan swasta di Lanud Halim, Jakarta. Sedangkan satu lagi dari seorang yang ingin menjadi pilot helikopter. Penggunaan transponder dan TCAS/PCAS dapat menambah kapasitas area training This is an enquiry e-mail via http://ilmuterbang.com from: Email di atas mengingatkan penulis pada kondisi sekitar tahun 1995, pada waktu penulis menjadi anggota salah satu klub penerbangan di Jakarta. Dengan kondisi yang sama penulis hanya mendapat kesempatan terbang 1 jam setiap bulan. Bandingkan dengan pada waktu penulis menjalani pendidikan penerbang di Texas, USA, dimana penulis menyelesaikan 250 jam terbang hanya dalam waktu 4 bulan. Sehingga rata-rata penulis terbang di sana lebih dari 60 jam setiap bulan. FYI, penulis pergi ke USA karena biaya sekolah yang tidak sampai 50% dibandingkan dengan biaya sekolah penerbang di Indonesia. Lebih dari 13 tahun telah berlalu. Belum ada kemajuan dalam sistem penerbangan Indonesia. Apa yang bisa kita (baca – pemerintah dan sekolah penerbangan) perbuat? Dari pada hanya kritik, mari kita bahas kemungkinan penyelesaiannya. Di bawah ini penulis akan membuat perbandingan cara kerja sekolah penerbangan di Indonesia dan sekolah penerbangan yang penulis ikuti di USA (selanjutnya disebut sekolah Y). Utilisasi pesawat 5 Pesawat untuk 80 siswa? Sebenarnya tidak masalah. Lepas dari ketersediaan area training yang akan dibahas setelah ini, pemanfaatan pesawat di sekolah Indonesia sangat rendah.Satu saat penulis ikut terbang dengan seseorang di sekolah penerbangan yang sudah tutup yaitu Avindo, penulis mendapatkan informasi bahwa training hanya dilakukan pada hari Senin sampai Jum'at. Biarpun saat itu, Avindo menyelenggarakan weekenders program dimana setiap orang, siapa saja, bisa menyewa pesawat untuk akhir minggu dan hari libur, kenyataannya setiap akhir minggu pesawat hanya digunakan 1-2 jam saja. Tidak hanya itu, pesawat mulai terbang pukul 6-8 pagi, berakhir pada pukul 16 atau 17 sore. Bandingkan dengan sekolah di USA yang memulai aktifitasnya pukul 5 pagi dan selesai pada pukul 11 malam. Senin sampai Minggu, 365 hari setahun. Jika kita mengambil 1 jam sebagai jatah waktu untuk setiap siswa dan 30 menit sebagai waktu pergantian antar siswa untuk menggunakan pesawat, maka dalam satu hari pukul 6 sampai 18 ada 12 jam yang dibagi 1.5 jam setiap sorti. Perhitungan ini menghasilkan 8 sorti penerbangan bisa dilakukan dalam satu hari. Di sekolah Y, mulai pukul 5 sampai 11 malam, ada 18 jam dibagi 1.5 jam, hasilnya adalah 12 sorti penerbangan dalam 1 hari. Memang, training untuk lisensi PPL hanya boleh dilakukan sesudah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam (untuk di Indonesia pukul 6 sampai pukul 18). Tapi siswa yang sudah berada di tahap instrument rating (IR) bisa melakukan penerbangan di malam hari atau pagi-pagi buta. Mengenai PPL dan IR dapat anda baca di Panduan Menjadi Pilot di bagian menu Blog.
Sekolah x di atas mempunyai 80 siswa dengan total 6 instruktur. Jadi 1 instruktur membawahi 13 orang. Dengan 125 siswa (75 dari Indonesia) sekolah Y di USA membatasi maksimum 4 siswa untuk 1 instruktur, dan hampir semuanya freelance kecuali chief instruktur! Siswa di sekolah Y pun dapat meminta untuk mengganti instruktur jika instrukturnya tidak mampu memberikan pengajaran dengan baik, sehingga instrukturpun terpicu untuk menjadi profesional. Apakah kita kekurangan instruktur? Jawabannya ya dan tidak. YA, karena susah untuk mendapatkan training untuk menjadi instruktur penerbang di Indonesia, kalaupun ada, informasinya terbatas. Untuk itu, kami mohon semua institusi penerbangan di Indonesia untuk memberi informasi pada kami di ilmuterbang.com jika ada pembukaan pendidikan instruktur penerbangan, agar dapat disebarluaskan dengan cepat. Jika kendala pendidikan instruktur sudah diatasi maka jawaban pertanyaan di atas adalah TIDAK.
Dahulu ada Juanda Flying School di Surabaya, tapi sekarang, semua sekolah penerbangan ada di kawasan Jabotabek (daftar sekolah penerbangan ada di bawah menu Link). Dengan kondisi ini, semua sekolah harus berbagi area untuk training. Biasanya ATC memberikan batasan jumlah pesawat yang ada di satu area. Misalnya, daerah Cibinong, 1 pesawat akan diberi ijin untuk melakukan latihan di ketinggian 1000 kaki, dan satu pesawat di 3000 kaki. Dengan cara ini, biasanya maksimum hanya ada 2-3 pesawat di satu area. Bagaimana solusinya? Ada satu alat yang bernama transponder. Alat ini mengirimkan data posisi dan ketinggian kepada radar ATC. Dengan perkembangan teknologi, ditemukan alat baru yang bernama TCAS (Traffic Collision Avoidance System) yang dapat dipasang di pesawat. Dengan TCAS ini, posisi pesawat lain yang memakai transponder dapat terlihat. Sehingga dalam kondisi jarak pandang yang minim pun, posisi pesawat dapat terpantau oleh radar ATC dan pesawat yang ada di sekitarnya. Alat TCAS ini memang cukup mahal (sampai dengan 230 ribu USD) sehingga hanya dipasang pada pesawat komersial saja, tapi dengan kemajuan teknologi dan pemakaiannya yang makin umum, harganya semakin murah. Lengkap dengan transponder saat ini harganya berkisar 10 ribu USD. Bahkan sudah ada PCAS (Portable Collision Avoidance System) yang harganya di bawah 500 USD. Untuk referensi silahkan cari di Google, Wikipedia atau Yahoo dengan kata cari: portable tcas. Sekilas memang terlihat mahal, tapi dengan keuntungan jumlah utilisasi/ pemakaian pesawat yang tinggi, maka investasi oleh sekolah penerbangan akan kembali dengan lebih cepat. Tapi hal ini tentunya harus dibarengi dengan profesionalisme yang tinggi dari petugas ATC. Karena kemampuan dan kelancaran alat radar dari ATC juga berpengaruh pada kesuksesan penggunaan TCAS dan transponder. Solusi lain yang paling mudah dan lebih murah saat ini adalah membuka sekolah penerbangan baru di daerah lain atau membuka secara resmi untuk training beberapa Lanud TNI. Dengan cara ini program bina potensi dirgantara yang sudah dilakukan oleh TNI AU akan lebih terasa manfaatnya. Utilisasi bandara Budiharto di Tanggerang sebagai pusat pelatihan penerbangan juga dapat dilakukan, sehingga kepadatan Lanud Halim Perdana Kusumah dapat dikurangi. Sekolah penerbang helikopter Berikut email dari seorang pembaca: This is an enquiry e-mail via http://ilmuterbang.com from: Muhammad Ierfan Prasetia <
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
> Menurut majalah angkasa bulan Maret 2007, disebutkan bahwa sejak tahun 1987 STPI Curug sudah tidak lagi memberikan pelatihan untuk calon penerbang helikopter, sehingga saat ini satu-satunya cara menjadi pilot helikopter adalah melalui sekolah militer. Pilihan lain adalah mencari sekolah penerbang helikopter di luar negeri. Hal ini sangat disayangkan karena tingginya permintaan akan penerbang helikopter terutama di luar negeri.
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Kamis, 26 Mei 2011 18:26 |