Thunderstorm, si cuaca buruk

Pesawat menghindari thunderstorm sejauh 20 mil"Jatuhnya pesawat latih milik Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug jenis Beech/Raytheon C-23 Sundowner di Blok Empang, Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jabar, Kamis (30/4), dipastikan karena faktor cuaca buruk. Satu dari tiga penumpang pesawat tersebut tewas akibat kejadian itu.

Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal, Jumat (1/5), mengatakan, pesawat yang biasa digunakan untuk wahana latihan para calon pilot tersebut dipastikan laik terbang. "Ketika pesawat akan kembali menghadapi perubahan cuaca dan kemudian mengalami musibah," ujar Menhub Jusman Safeii Djamal, seusai menghadiri perayaan ulang tahun Pelabuhan Tanjung Emas ke-462, di Kota Semarang, Jawa Tengah."

Dikutip dari kompas.com, Jumat, 1 Mei 2009.

Sebelumnya penulis secara pribadi menyatakan kesedihan yang mendalam dan belasungkawa yang sebesar-besarnya pada para korban kecelakaan tersebut dan kecelakaan hampir serupa karena "cuaca buruk" yang terjadi sebelumnya, semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan. Kesedihan karena kita kehilangan putra-putra unggul kebanggaan bangsa. Juga kesedihan karena pada semua kecelakaan yang terjadi hanya dinyatakan penyebabnya, sementara apa yang mungkin harus dikerjakan untuk menanggulanginya agar tidak terjadi lagi tidak disampaikan. Karena itu penulis ingin mencoba menguraikan bagaimana menghindari cuaca buruk untuk menghindari kecelakaan yang sama.

Baik, mari kita berasumsi bahwa benar cuaca adalah penyebab utama, dan pesawat sangat laik untuk terbang (catatan: penulis pernah menjadi penumpang di salah satu pesawat Sundowner milik STPI beberapa belas tahun lalu pada salah satu kegiatan dirgantara dan berasumsi tahu kondisi pesawat tersebut).  

Pertanyaannya adalah cuaca buruk seperti apa yang mereka hadapi dan pelatihan seperti apa yang sudah mereka jalani untuk mengenali cuaca buruk tersebut dan tindakan apa yang diajarkan pada mereka pada waktu mereka terjebak dalam cuaca buruk tersebut. Selain itu apakah pesawat yang sudah tua itu laik terbang. Berikut adalah butir-butir yang harus dipelajari oleh seorang penerbang.

Awan CB (Cumulonimbus)Pesawat Tua

Menambahkan kutipan Menteri Perhubungan yang mengatakan pesawat tersebut laik terbang, pesawat tua bukanlah alasan untuk terjadinya sebuah kecelakaan. Pesawat Sundowner ini mungkin berumur 30an tahun, sedangkan pada waktu penulis melakukan pelatihan Multi Engine pada tahun 1995, kami melakukannya di sebuah pesawat Piper Apache buatan tahun 1955. Dan pesawat tersebut tidak pernah mengalami kecelakaan sekali pun.

Dengan jadwal perawatan dan pergantian suku cadang yang tepat, sebuah pesawat tua bisa menjadi moda transportasi yang cukup aman.

Cuaca
Indonesia sebagai negara tropis mempunyai cuaca yang kurang bersahabat bagi penerbang. Jika ada hujan angin (thunderstorm) maka akan sangat berbahaya untuk melakukan penerbangan atau melakukan pendaratan. Thunderstorm bisa dikenali dengan adanya awan CB (cumulonimbus).
 
Bagaimana cara menanggulanginya? Tidak ada!.

Ada satu teori untuk menghadapi thunderstorm yaitu AVOID, AVOID, AVOID!.Hindari!


Jika ada thunderstorm pada waktu akan mendarat, maka biasanya penerbang melakukan hal-hal berikut:
  1. Holding, terbang berputar, menunggu
  2. Divert, pergi ke bandar udara lain.

1. Holding
Jika sebuah thunderstorm diperkirakan akan berakhir dalam 30 menit misalnya, dan pesawat masih punya bahan bakar cukup untuk terbang menunggu selama 30 menit dan sisanya untuk ke bandar udara lain, maka penerbang bisa memutuskan untuk holding menunggu habisnya thunderstorm.

Jangan coba untuk terbang di bawah thunderstorm, biarpun anda dapat melihat sisi seberangnya dengan jelas dari bawah thunderstorm tersebut. Turbulensi dan windshear yang bisa terjadi di bawahnya amat sangat berbahaya.2. Divert
Divert dilakukan jika tidak ada sisa bahan bakar untuk holding atau thunderstorm diperkirakan akan ada dalam waktu yang cukup lama. Kembali ada pertanyaan kemana kita akan divert?
Pada kasus di atas, di sekitar kabupaten Bogor, ada lapangan udara Pondok Cabe, Halim PK, Atang Sendjaya atau bahkan Soekarno-Hatta.
Bolehkah sebuah pesawat latih mendarat di landasan udara militer semisal Atang Sendjaya atau ke bandar udara international Soekarno-Hatta? Dalam keadaan darurat semua yang dilakukan untuk keselamatan adalah diperbolehkan.
 
Strategi menghadapi thunderstorm
Kembali pada cuaca dengan thunderstorm, kecelakaan yang terjadi di atas mungkin tidak pada saat pesawat akan mendarat, tapi mungkin pada saat melakukan latihan penerbangan di ketinggian 1000 sampai 3000 kaki. Bahaya thunderstorm pada ketinggian tersebut adalah windshear.
 
Mengenai thunderstorm sendiri dan bahayanya selalu ada dalam pelajaran mengenai cuaca. Pelajaran cuaca bisa anda unduh di alamat yang kami tautkan di bagian referensi di bawah artikel ini. Sebagai tambahan kami mencoba menguraikan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada saat terbang di sekitar thunderstorm. Setiap siswa penerbang wajib tahu dan mengikuti aturan-aturan di bawah.
 
 
 

embedded thunderstorm, awan CB yang tersembunyi di antara awan lain.
 
a. Menghindari thunderstormPetir/kilat yang jelas dan sering, menunjukkan kemungkinan thunderstorm yang kuat
  1. Jangan take off atau landing menghadap ke thunderstorm yang mendekati landasan. Angin tiba-tiba (Gust) dari turbulensi di ketinggian rendah dapat mengakibatkan penerbang hilang kendali.
  2. Jangan coba untuk terbang di bawah thunderstorm, biarpun anda dapat melihat sisi seberangnya dengan jelas dari bawah thunderstorm tersebut. Turbulensi dan windshear yang bisa terjadi di bawahnya amat sangat berbahaya.
  3. Jangan terbang tanpa radar cuaca ke dalam awan yang mungkin berisi thunderstorm (embedded thunderstorm). Thunderstorm yang berdiri sendiri dan berpencar-pencar biasanya lebih mudah dilihat.
  4. Jangan mempercayai penglihatan untuk mengukur kekuatan turbulensi dalam thunderstorm.
  5. Hindari thunderstorm sejauh 20 mil terutama dari anvil (lihat gambar di akhir artikel ini).
  6. Terbang mengelilingi untuk menghindari thunderstorm terutama jika 6/10 daerah tertutup oleh thunderstorm
  7. Ingat bahwa kilat yang jelas dan sering, menunjukkan kemungkinan thunderstorm yang kuat.
  8. Puncak dari thunderstorm yang mencapai 35000 kaki atau lebih, baik terlihat maupun dari layar radar adalah thunderstorm yang sangat berbahaya.  
Gunakan radar cuaca

b. Jika terpaksa tidak bisa menghindari thunderstorm Pastikan pitot heat ON
  1. Pasang safety belt, jika ada shoulder harness juga harus dipasang, ikat semua barang yang bisa bergeser atau berterbangan jika tidak diikat dan dapat melukai anda. Beberapa kasus fatal terjadi karena kemungkinan penerbang tidak memakai shoulder harness dan kepalanya/dada terbentur kemudi/dashboard pada waktu turbulensi atau bahkan crash.
  2. Rencanakan dan jaga arah untuk memasuki thunderstorm dengan waktu yang tersingkat untuk menyeberangi thunderstorm.
  3. Untuk menghindari icing (terjadinya es di mesin dan badan pesawat),  masuklah ke thunderstorm di ketinggian di bawah freezing level atau di atas 15° C.
  4. Periksa Pitot Heat menyala (On) dan nyalakan Carburetor Heat atau untuk pesawat jet, engine anti ice. Icing bisa terjadi dengan cepat di ketinggian berapa saja asal kriteria terjadinya icing terpenuhi, bahkan di negara tropis seperti Indonesia, dan dapat  mengakibatkan mesin mati secara tiba-tiba dan/atau kehilangan indikasi kecepatan udara (airspeed).
  5. Pasang power setting untuk masuk ke turbulence (turbulence penetration speed) sesuai dengan rekomendasi buku panduan masing-masing pesawat.
  6. Nyalakan lampu-lampu di kokpit dengan intensitas tertinggi untuk menghindari kebutaan sementara karena petir.
  7. Kalau menggunakan auto-pilot, matikan altitude hold mode dan speed hold mode. Penggunaan kedua modus tersebut akan membuat pesawat bermanuver mempertahankan ketinggian dan kecepatan, sehingga menambah beban di badan pesawat (aircraft stress). 
  8. Jika menggunakan radar cuaca, gerakkan radar ke atas dan ke bawah sesekali untuk melihat adanya thunderstorm tidak hanya di ketinggian pesawat saat itu.
Nyalakan Carburetor Heat untuk menghindari icing
 
c. Pada waktu berada di dalam thunderstorm
  1. Hanya lihat instrumen!. Jangan lihat keluar, karena cahaya kilat dapat membutakan biarpun hanya sementara.
  2. Jangan ubah power setting. Jaga agar tetap di recommended turbulence penetration airspeed.
  3. Jaga sikap/attitude pesawat. Biarkan pesawat naik/turun, "menunggangi" ayunan turbulensi. Jika kita mencoba untuk menjaga ketinggian pesawat, maka berakibat menambah beban tekanan di badan pesawat (aircraft stress).
  4. Jangan berputar kembali pada saat masuk ke thunderstorm. Terbang lurus kemungkinan akan mengeluarkan anda dari thunderstorm dengan lebih cepat. Manuver berbelok juga menambah aircraft stress.

Keterangan: Tidak semua kata "harus" pada artikel ini adalah keharusan dari peraturan penerbangan, ada yang berarti "harus" untuk menghindari resiko fatal. Semua yang ditulis di sini adalah "best practices" yang direkomendasikan oleh badan-badan penerbangan. Tindakan nyata yang harus dilakukan bergantung pada keadaan aktual yang anda hadapi.

Ilustrasi thunderstorm dari Chapter 11, Pilot Handbook of Aeronautical Knowledge

referensi:
Chapter 11, Pilot Handbook of Aeronautical Knowledge, Bab 11 tentang cuaca, bisa diunduh dengan gratis di:
http://www.faa.gov/library/manuals/aviation/pilot_handbook/media/PHAK%20-%20Chapter%2011.pdf

AC-00-24b Thunderstorm, bisa diunduh dengan gratis di:
AC-00-24B
 

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com

Pengunjung

Kami memiliki 87 tamu dan tidak ada anggota online

Go to top