Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| Transisi sebagai ab initio pesawat Multi Crew Cockpit |
| Ditulis oleh Yohanes Sugiarto | |||
| Minggu, 11 Desember 2011 20:00 | |||
Ab initio -adv.
Saat-saat menjadi siswa penerbang Single Pilot, instruktur mendidik saya untuk bisa menjadi mandiri. Melakukan semua urusan cockpit seorang diri, saat sedang berada di dalam pesawat. Namun, karena secara umum tingkat kerumitan pengoperasian pesawat Multi Crew lebih rumit, maka cara pandang seperti itu harus saya ubah saat saya akan menerbangkan pesawat yang membutuhkan 2 penerbang dalam operasi normalnya.
Ibarat satu tim yang memiliki anggota-anggota yang sadar akan tugasnya masing-masing dan melatih dirinya untuk kebaikan tim, maka hasil yang dicapai akan optimal. Jika tidak, maka yang satu harus meninggalkan kewajibannya untuk melakukan tugas anggota lain yang masih tertinggal. Contoh itu, mungkin dapat dijadikan gambaran seperti apa tugas Multi Crew Cockpit. Seperti contoh, sebagai calon penerbang Boeing 737 CL, saya dapat menemukan pembagian tugas di Flight Crew Operations Manual (FCOM), Quick Reference Handbook (QRH), dan Company Procedure.Cara belajar saya sekarang harus diubah sejak memasuki pelatihan di tempat saya bekerja sekarang. Tidak hanya di tempat kerja saya, di tempat lain saya yakin juga demikian. Tidak ada lagi pengetahuan yang didapat hanya berasal dari "Kata Captain ini ... ; Kata Captain itu ..." tanpa ada dasar yang jelas dari buku resmi. Alangkah baiknya jika di Flying School sudah mendapat budaya belajar dan mengajar seperti ini. Hal-hal yang tidak bersifat pasti bisa diputuskan rantai-nya sejak dini. Selain itu, pola pengajaran yang diterapkan adalah kemandirian. Karena sudah dianggap dewasa, maka saya dan teman-teman lain dipercaya untuk bisa belajar sendiri biarpun di kelas kami tetap diajarkan. Kemudian jika ada yang tidak jelas atau tidak dimengerti, maka bisa disiapkan pertanyaan-nya untuk kemudian ditanyakan saat di kelas atau kepada orang yang berkompeten. Proses awal pendidikan yang saya dapat, dimulai dari Bridging Course (Jet Intro) Di sini saya belajar kembali tentang Meteorology, Aerodynamics, Power Plants, Performance, Human Factor, Navigation dan beberapa materi yang sudah dipelajari di Flying School sebelumnya. Namun porsinya disesuaikan dengan apa yang akan saya hadapi nanti. Seperti contoh, dimulai dari High altitude environment → mempengaruhi performa pesawat → membutuhkan pesawat yang menggunakan pressurization system → mesin yang dibutuhkan untuk dapat terus beroperasi di ketinggian yang tinggi → dan seterusnya. Setelah menyelesaikan kelas teori, saya diberikan kesempatan sebanyak 5 sesi untuk menjalani pengenalan pesawat jet menggunakan simulator. Apa yang sebelumnya dipelajari, diperkenalkan di simulator untuk mencoba karakteristik pesawat jet. Mandatory Training Ada beberapa kelas yang wajib diikuti karena ketentuan perusahaan. Seperti pelajaran tentang Windshear, Upset Recovery, keamanan penerbangan, pelatihan untuk menggunakan alat-alat darurat (Fire Extinguisher, Life raft, Life vest, dll.), dan kelas lainnya.
Computer Based Training Mempelajari system pesawat yang akan dituju menggunakan software yang sudah di-install pada komputer perusahaan. Di sini bisa dikatakan cukup sulit, berhubung masih dalam tahap mau mengenali lebih dalam system pesawat baru. Pesawat besar maka di dalamnya terdapat beberapa system seperti electronics, pneumatics, hydraulics, navigations, emergency equipments, dan lainnya. Itu semua dibahas dalam Computer Based Training (CBT). Pelajari system sebaik-baiknya, karena nantinya akan sangat membantu saat memasuki sesi simulator dan seterusnya. Kalau tidak, mungkin akan cukup sulit untuk mengejar ketertinggalan pelajaran sebelumnya. Tidak banyak yang bisa diceritakan, karena yang bisa saya ceritakan adalah, datang ke kelas, menyalakan komputer, buka software CBT, dan mengikuti program yang sudah ditentukan, pulang kena macet dijalan, review sedikit di rumah kalau sempat atau masih bisa, berulang-ulang selama 6-7 Minggu. Dari pencinta pengguna computer, sampai sempat menjadi jenuh melihat computer saat menjalani CBT. Mungkin bisa dikatakan "Ada pengorbanan yang harus dibayar untuk menikmati sesuatu yang indah nantinya". Simulator
Syllabus untuk simulator training, sudah ditentukan mulai dari kasus yang cukup ringan, sampai dengan yang berat. Seperti contoh, mesin pesawat terlepas, mesin terbakar, kebocoran total pada 2 Hydraulics systems dari 3 yang ada, dan lainnya.
Bagaimana mungkin sekian banyak informasi harus bisa dimengerti dalam waktu yang sangat singkat, dalam hitungan bulan? Memang sulit dan mungkin saja tidak mungkin. Saya mengakui masih banyak yang harus saya pelajari dari buku-buku yang diberikan. Namun, saya memberikan porsi prioritas untuk mana yang akan saya pelajari lebih dahulu, dan mana yang saya rasa bisa untuk ditunda untuk sementara waktu, dan akan dipelajari seiring berjalannya waktu. Contoh skala prioritas yang saya buat:
Anda bisa / harus mengubah skala ini tergantung dari kemampuan anda masing-masing.
Kata salah satu pengajar saya. Memberikan motivasi kepada saya untuk tidak putus asa, karena tidak hanya saya yang mengalami kesulitan. Asalkan mau belajar dan berusaha, pasti bisa!
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Kamis, 05 Januari 2012 17:02 |
Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di page www.ilmuterbang.com di: Gunakan fasilitas cari di FB dengan kata kunci ilmuterbang.com Follow @ilmuterbang |