Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| ETOPS bagian 2: Dispatching |
| Ditulis oleh Fadjar Nugroho | |||||||||||||||||||||||||||
| Minggu, 03 Agustus 2008 02:54 | |||||||||||||||||||||||||||
|
Disclaimer: Tulisan ini adalah gambaran bagaimana sebuah penerbangan ETOPS dilakukan, dengan mengambil contoh prosedur dari sebuah perusahaan asing yang diakreditasi untuk menjalankan ETOPS 120 menit oleh pihak otoritas di negaranya. Tulisan ini bukan panduan menjalankan ETOPS, karena batasan/limitasi dan prosedur adalah berdasarkan prosedur yang diijinkan oleh masing-masing otoritas penerbangan di masing-masing negara. Catatan: beberapa istilah yang ada seperti Equitime Point dan lain-lain, dapat ditemukan pada tulisan mengenai ETOPS sebelumnya.
Dispatch Sebelum melepaskan sebuah penerbangan ETOPS, seorang dispatcher harus melakukan hal-hal diluar yang biasa dilakukan untuk sebuah penerbangan non-ETOPS, yaitu:
Suitable aerodrome Sebuah suitable aerodrome, untuk kepentingan dispatch, di definisikan sebagai sebuah aerodrome yang adequate dan memenuhi syarat ETOPS Dispatch weather Minima dalam hal ceiling dan visibility dalam periode waktu tertentu yang disebut required period of suitability. Period of suitability ini dimulai 1 jam sebelum earliest ETA (estimated time of arrival) dan diakhiri 1 jam setelah latest ETA. Cara menghitung ETA ini akan dibahas tersendiri. Jadi biarpun aerodrome tersebut adequate, tapi jika pada saat diperlukan (period of suitability), keadaan cuacanya di bawah ETOPS Dispatch Weather Minima, maka aerodrome tersebut tidak dapat dipilih sebagai alternate pada sebuah penerbangan ETOPS. Sebagai tambahan, kondisi crosswind juga harus dilihat, karena biarpun cuaca di aerodrome tersebut memenuhi syarat dalam hal ceiling dan visibility, tapi jika besarnya crosswind melebihi kemampuan pesawat maka aerodrome tersebut juga dianggap tidak suitable. Hal lain yang perlu dilihat adalah keadaan bandar udara itu sendiri, apakah memenuhi syarat untuk didarati jika pesawat mengalami kerusakan di salah satu mesin, atau di bagian lain dari sistem pesawat. NOTAM dan SNOWTAM adalah sebagian dari dokumen yang harus diperiksa untuk melihat keadaan bandar udara tersebut.
ETOPS Dispatch Weather Minima Untuk menyatakan bahwa sebuah adequate enroute alternate adalah suitable untuk sebuah penerbangan ETOPS, maka kondisi cuaca di aerodrome tersebut harus diperiksa menggunakan laporan cuaca seperti TAF, SPECI, SIGMET dan lain-lain. Biasanya, Weather Minima untuk sebuah enroute alternate mempunyai standar keadaan cuaca yang lebih tinggi dari kemampuan bandar udara itu sendiri. Misalnya sebuah bandar udara memiliki CAT 1 ILS approach, maka cuaca yang dibutuhkan adalah Non-precision approach minima. Contohnya, jika bandar udara Hasanuddin Makassar dijadikan sebuah enroute alternate, maka biarpun bandar udara Hasanuddin memiliki ILS Cat 1 dengan minimum visibility 900 m, untuk keperluan ETOPS planning, pada waktu period of suitability, harus mempunyai forecast visibility untuk non-precision approach, misalnya 2000 m untuk localizer approach. Berikut adalah tabel untuk menentukan weather minima sebuah ETOPS enroute alternate:
Catatan: Runway/landasan yang dapat dianggap sebagai separate runway adalah: 2 landasan yang tidak saling memotong, sehingga jika salah satu landasan di blok oleh sebuah pesawat yang rusak maka tidak mengganggu operasi dari landasan yang lain. Setiap landasan mempunyai prosedur approach yang berbeda yang berdasarkan NAVAID yang berbeda.
Period of Suitability Required period of validity dimulai 1 jam sebelum earliest estimated time of arrival pada en-route alternate aerodrome yang dipilih dan berakhir 1 jam setelah latest estimated time of arrival di aerodrome tersebut. Earliest estimated time of arrival dihitung untuk 2-engine diversion dari Equitime Point pertama sepanjang rute menuju en-route alternate, pada normal planned cruise altitude dan speed (dengan asumsi diversion karena alasan selain kerusakan mesin atau kerusakan pressurization system). Sedangkan latest estimated time of arrival dihitung untuk 2-engine diversion dari Equitime Point pertama sepanjang rute menuju en-route alternate, pada FL100 (10000 feet) atau pada MORA dan menggunakan LRC (Long Range Speed) dengan asumsi terjadi kerusakan pada pressurization system. Jika terjadi delay lebih dari 1 jam dari keberangkatan pesawat maka period of time harus dihitung ulang. Cara menghitung period of suitability: – Awal dari the period of suitability : (Departure Time) + (Taxi Time) + (Flight Time to equitime point before alternate) + (Diversion Time at normal cruise speed and altitude) - (one hour) – Akhir dari the period of suitability : (Departure Time) + (Taxi Time) + (Flight Time to equitime point after alternate) + (Diversion time at long range speed FL100 two engines) + (one hour)
|
|||||||||||||||||||||||||||
| Terakhir Diperbaharui Senin, 25 Agustus 2008 03:39 | |||||||||||||||||||||||||||
Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di page www.ilmuterbang.com di: Gunakan fasilitas cari di FB dengan kata kunci ilmuterbang.com Follow @ilmuterbang |