Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| Mimpi airlines membahas Turbulence |
| Ditulis oleh Capt. Ade Hendriady | |||
| Senin, 16 Februari 2009 17:46 | |||
![]() Takut terbang karena Turbulence?! Sementara bagi sebagian orang dari desa saya memiliki konotasi terbang ya goyang-goyang dan diayun-ayun, kalau tidak goyang dan diayun-ayun namanya bukan terbang. Bagi kebanyakan penumpang pesawat terbang termasuk frequent traveler (orang yang sering bepergian) sekalipun kurang memahami arti turbulence yang sebenarnya. Mereka tidak menyadari bahwa turbulence bisa terjadi kapan saja dan di mana saja tanpa memberikan peringatan sebelumnya. Pilot takut terhadap turbulence sebagaimana pelaut yang takut terhadap ombak yang besar, sebuah analogi yang terlalu ekstrim mungkin. Tapi itulah idenya meskipun kapal lebih sering menemui ombak yang bergoyang daripada pesawat di udara. Turbulence adalah sebuah gerakan udara yang tidak bisa terlihat dengan kasat mata dan bisa terjadi kapan tanpa dapat diperkirakan sebelumnya, bahkan bisa terjadi pada clear sky (udara cerah) tanpa ada awan sedikitpun. Turbulence dapat terjadi karena beberapa phenomena alam seperti adanya jetstream, mountain waves, cold/warm front atau thunderstorm. Di dalam dunia penerbangan intensitas atau kekuatan turbulence dibagi menjadi beberapa intensitas dimulai dengan istilah light turbulence, light chop, moderate turbulence, moderate chop, severe turbulence dan yang paling berbahaya adalah extreme turbulence. Inilah semua yang sering menyebabkan penumpang dan awak pesawat cedera karena dalam beberapa kasus turbulence saking kerasnya turbulence hingga mampu mengangkat penumpang ke langit-langit yang selanjutnya membanting ke lantai dengan lebih keras lagi. Itulah sebabnya mimpi airlines selalu mengingatkan penumpangnya untuk senantiasa memakai seatbelt ketika duduk sebagai salah satu upaya menghindari cedera yang tidak diharapkan ketika terjadi “goyang-goyang” tadi. Istilah Clear Air Turbulence sangatlah popular di dunia penerbangan karena banyak sekali kasus-kasus penyebab inflight-injuries (terluka dalam penerbangan) terjadi disebabkan CAT (Clear Air Turbulence). Clear Air Turbulence memiliki beberapa sifat seperti berikut : tidak bisa dilihat dan diperkirakan sebelumnya sehingga tidak ada alat di cockpit yang bisa memberi warning atau peringatan, seringkali tidak terlalu terasa “goyangannya” di cockpit tapi sangat terasa dibagian Aft section (belakang) dari kabin, bisa terjadi meskipun tidak ada awan satupun di langit alias clear sky, system radar di pesawat tidak bisa mendetect adanya CAT, clear air turbulence seringkali terjadi di ketinggian di mana pesawat sedang terbang cruising (menjelajah) dan tiba-tiba pesawat memasuki daerah turbulence tersebut. Turbulence adalah penyebab nomer satu terjadinya inflight-injuries, banyak sekali laporan tentang cederanya penumpang dan awak pesawat yang dikarenakan oleh Turbulence. Serious injuries seringkali terjadi ketika pesawat sedang terbang cruise dan penumpang serta awak pesawat berjalan-jalan di kabin lalu secara tiba-tiba pesawat memasuki area Clear air Turbulence dengan tanpa disangka sebelumnya. Untuk menghindari Inflight-injuries kepada penumpang dan awak pesawat termasuk pilotnya diharuskan untuk selalu memakai seat belt ketika duduk, meskipun seatbelt sign (lampu tanda kenakan sabuk pengaman) tidak menyala pada saat itu. Beberapa angka statistik yang bisa dengan mudah kita dapatkan dari web internet sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1997 dilaporkan terjadi 342 incident maupun accident yang berhubungan dengan Turbulence, 3 orang meninggal dimana 2 dari 3 orang yang meninggal tersebut tidak mengenakan seatbelt ketika terjadi turbulence dengan seat belt sign ON, 80 orang mengalami serious-injuries dimana 73 dari mereka juga tidak mengenakan seatbelt. Apa yang bisa dilakukan pilot menghindari terjadinya inflight-injuries karena adanya turbulence ini? Tidak ada seorang pilotpun yang memiliki keinginan pesawatnya secara sengaja untuk memasuki daerah turbulence tentu saja. Pilot melakukan tindakan-tindakan preventifnya dimulai dengan membaca laporan cuaca, preflight weather report (sigmet) , selanjutnya memberikan informasi penting tersebut kepada seluruh awak pesawat ketika preflight briefing antara cockpit-cabin crew sehingga awak kabin juga akan waspada terhadap perkiraan kapan turbulence akan terjadi setelah pesawat terbang. Inflight Pilot menggunakan radar sebagai salah satu tool/ alat untuk menghindari daerah turbulence yang dapat di deteksi oleh sistem radar di cockpit, pilot juga memperhatikan visible atmosphere cues (tanda-tanda yang terlihat), memperhatikan laporan pilot pesawat lain kepada air traffic controller (ATC) dan berusaha mencari area untuk menghindari area turbulence tersebut meskipun CAT sangatlah sulit untuk dilihat dan diperkirakan. Study kasus beberapa penerbangan negara tetangga yang mengalami inflight-injuries karena turbulence;
administrator www.mimpiairlines.com Tips dari capt. Ario Wibisono bagi penerbang: How to detect a CAT in the cockpit:
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Rabu, 19 Oktober 2011 12:28 |