BEASISWA PT. Metro Batavia PENDAFTARAN PSDP PENERBANGAN TNI PENDAFTARAN CALON TARUNA TAHUN 2010 STPI Curug |
| Thunderstorm, si cuaca buruk |
| Ditulis oleh Admin | |||
| Minggu, 17 Mei 2009 06:57 | |||
"Jatuhnya pesawat latih milik Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug jenis Beech/Raytheon C-23 Sundowner di Blok Empang, Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jabar, Kamis (30/4), dipastikan karena faktor cuaca buruk. Satu dari tiga penumpang pesawat tersebut tewas akibat kejadian itu.Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal, Jumat (1/5), mengatakan, pesawat yang biasa digunakan untuk wahana latihan para calon pilot tersebut dipastikan laik terbang. "Ketika pesawat akan kembali menghadapi perubahan cuaca dan kemudian mengalami musibah," ujar Menhub Jusman Safeii Djamal, seusai menghadiri perayaan ulang tahun Pelabuhan Tanjung Emas ke-462, di Kota Semarang, Jawa Tengah." Dikutip dari kompas.com, Jumat, 1 Mei 2009. Sebelumnya penulis secara pribadi menyatakan kesedihan yang mendalam dan belasungkawa yang sebesar-besarnya pada para korban kecelakaan tersebut dan kecelakaan hampir serupa karena "cuaca buruk" yang terjadi sebelumnya, semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan. Kesedihan karena kita kehilangan putra-putra unggul kebanggaan bangsa. Juga kesedihan karena pada semua kecelakaan yang terjadi hanya dinyatakan penyebabnya, sementara apa yang mungkin harus dikerjakan untuk menanggulanginya agar tidak terjadi lagi tidak disampaikan. Karena itu penulis ingin mencoba menguraikan bagaimana menghindari cuaca buruk untuk menghindari kecelakaan yang sama. Baik, mari kita berasumsi bahwa benar cuaca adalah penyebab utama, dan pesawat sangat laik untuk terbang (catatan: penulis pernah menjadi penumpang di salah satu pesawat Sundowner milik STPI beberapa belas tahun lalu pada salah satu kegiatan dirgantara dan berasumsi tahu kondisi pesawat tersebut). Pertanyaannya adalah cuaca buruk seperti apa yang mereka hadapi dan pelatihan seperti apa yang sudah mereka jalani untuk mengenali cuaca buruk tersebut dan tindakan apa yang diajarkan pada mereka pada waktu mereka terjebak dalam cuaca buruk tersebut. Selain itu apakah pesawat yang sudah tua itu laik terbang. Berikut adalah butir-butir yang harus dipelajari oleh seorang penerbang. Pesawat TuaMenambahkan kutipan Menteri Perhubungan yang mengatakan pesawat tersebut laik terbang, pesawat tua bukanlah alasan untuk terjadinya sebuah kecelakaan. Pesawat Sundowner ini mungkin berumur 30an tahun, sedangkan pada waktu penulis melakukan pelatihan Multi Engine pada tahun 1995, kami melakukannya di sebuah pesawat Piper Apache buatan tahun 1955. Dan pesawat tersebut tidak pernah mengalami kecelakaan sekali pun. Dengan jadwal perawatan dan pergantian suku cadang yang tepat, sebuah pesawat tua bisa menjadi moda transportasi yang cukup aman. Cuaca Indonesia sebagai negara tropis mempunyai cuaca yang kurang bersahabat bagi penerbang. Jika ada hujan angin (thunderstorm) maka akan sangat berbahaya untuk melakukan penerbangan atau melakukan pendaratan. Thunderstorm bisa dikenali dengan adanya awan CB (cumulonimbus). Bagaimana cara menanggulanginya? Tidak ada!. Ada satu teori untuk menghadapi thunderstorm yaitu AVOID, AVOID, AVOID!.Hindari! Jika ada thunderstorm pada waktu akan mendarat, maka biasanya penerbang melakukan hal-hal berikut:
1. Holding Jika sebuah thunderstorm diperkirakan akan berakhir dalam 30 menit misalnya, dan pesawat masih punya bahan bakar cukup untuk terbang menunggu selama 30 menit dan sisanya untuk ke bandar udara lain, maka penerbang bisa memutuskan untuk holding menunggu habisnya thunderstorm. 2. Divert Divert dilakukan jika tidak ada sisa bahan bakar untuk holding atau thunderstorm diperkirakan akan ada dalam waktu yang cukup lama. Kembali ada pertanyaan kemana kita akan divert? Pada kasus di atas, di sekitar kabupaten Bogor, ada lapangan udara Pondok Cabe, Halim PK, Atang Sendjaya atau bahkan Soekarno-Hatta. Bolehkah sebuah pesawat latih mendarat di landasan udara militer semisal Atang Sendjaya atau ke bandar udara international Soekarno-Hatta? Dalam keadaan darurat semua yang dilakukan untuk keselamatan adalah diperbolehkan. Strategi menghadapi thunderstorm Kembali pada cuaca dengan thunderstorm, kecelakaan yang terjadi di atas mungkin tidak pada saat pesawat akan mendarat, tapi mungkin pada saat melakukan latihan penerbangan di ketinggian 1000 sampai 3000 kaki. Bahaya thunderstorm pada ketinggian tersebut adalah windshear. Mengenai thunderstorm sendiri dan bahayanya selalu ada dalam pelajaran mengenai cuaca. Pelajaran cuaca bisa anda unduh di alamat yang kami tautkan di bagian referensi di bawah artikel ini. Sebagai tambahan kami mencoba menguraikan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada saat terbang di sekitar thunderstorm. Setiap siswa penerbang wajib tahu dan mengikuti aturan-aturan di bawah. ![]() a. Menghindari thunderstorm ![]()
![]() b. Jika terpaksa tidak bisa menghindari thunderstorm
c. Pada waktu berada di dalam thunderstorm
Keterangan: Tidak semua kata "harus" pada artikel ini adalah keharusan dari peraturan penerbangan, ada yang berarti "harus" untuk menghindari resiko fatal. referensi: Chapter 11, Pilot Handbook of Aeronautical Knowledge, Bab 11 tentang cuaca, bisa diunduh dengan gratis di: http://www.faa.gov/library/manuals/aviation/pilot_handbook/media/PHAK%20-%20Chapter%2011.pdf AC-00-24b Thunderstorm, bisa diunduh dengan gratis di: http://rgl.faa.gov/Regulatory_and_Guidance_Library/rgAdvisoryCircular.nsf/0/c1469094b648ba9b86256c4000665e05/$FILE/ac00-24b.pdf
|
|||
| Terakhir Diperbaharui Selasa, 16 Juni 2009 14:39 |
Berikan komentar anda dan membuat diskusi terbuka di group www.ilmuterbang.com di: |