Bail out dengan kursi lontar

Mungkin kita sering mendengar istilah bailout di berita berita televisi nasional tentang kasus kasus uang dan bank. Tapi kali ini kita tidak membahas bail out yang itu.

Bail out sangat dikenal oleh para penerbang militer, khususnya penerbang pesawat tempur. Bail out ialah proses keluarnya penerbang dari cockpit pesawat dikarenakan pesawat dalam keadaan bahaya.
Apa saja yang dimaksud dalam keadaan bahaya?
  1. Hampir tertembak musuh
  2. Sudah tertembak musuh
  3. pesawat dalam keadaan tidak baik dan akan mencelakakan penerbang (kejadian hancurnya rangka F-15 milik USAF)
  4. Pesawat akan terjatuh
Pada jaman dahulu, sebelum adanya kursi lontar. Bail out dilakukan dengan cara manual, yaitu:
  1. Membuka melepaskan diri dari kursi (seat).
  2. Membuka kanopi.
  3. Melompat.
Seiring kemajuan teknologi, kursi lontar pun tercipta untuk memudahkan penerbang pesawat tempur untuk menyelamatkan diri. Pesawat -pesawat tempur dewasa ini dilengkapi dengan kursi lontar (ejection seat) yang berfungsi untuk menyelamatkan pilot saat terjadi kecelakaan atau bahaya seperti telah disebutkan di atas.

Salah satu kursi lontar yang digunakan oleh pesawat F-16 adalah ACES II. Kursi lontar pesawat terbang ini di rancang untuk bisa digunakan melontarkan pilot pada ketinggian dan kecepatan nol, artinya kursi lontar bisa diaktifkan saat pesawat dalam keadaan diam di darat sampai kecepatan 600 knot dengan ketinggian sampai 50.000 kaki.

Kursi lontar pesawat tempur ini bisa di operasikan dengan tiga tipe kecepatan dan ketinggian saat pesawat mengudara. Metode pertama untuk kecepatan dan ketinggian rendah. Pada metode ini kursi lontar bisa melontarkan pilot pada kecepatan pesawat kurang dari 250 knot dan ketinggian kurang 15.000 kaki. Metode kedua untuk kecepatan dan ketinggian sedang. Pada metode ini kecepatan pesawat lebih 250 knot dan ketinggian kurang 15.000 kaki. Metode ketiga untuk kecepatan pesawat lebih 250 knot dan ketinggian lebih dari 15.000 kaki.

Proses meninggalkan pesawat (bail out) dengan kursi lontar

Pilot menarik tuas untuk melepaskan kursi lontar kemudian secara otomatis kanopi pesawat akan terbuka, catapult mendorong kursi lontar pada posisi nya.
0,15 detik kemudian setelah kursi dilontarkan dengan kecepatan 15 m/dt (50 kaki) semua peralatan pendorong akan menyala (waktu yang dibutuhkan 0,10 detik).
Setengah detik kemudian kursi lontar telah mencapai ketinggian 100 sampai 200 kaki dari posisi awal. Kemudian peralatan pendorong terpisah dari pilot.
Dua setengah detik kemudian parasut utama akan mengembang dan pilot pun mendarat dengan selamat.

Bagian-bagian kursi lontar pesawat terbang.

Sesuai fungsinya kursi pelontar berguna untuk menyelamatkan pilot baik dari kecelakaan pesawat terbang maupun dari sergapan musuh setelah pilot mendarat untuk itu kursi lontar dilengkapi berbagai pelengkapan sebagai berikut:

  • Tas survival kit terletak di bagian bawah diduduki oleh pilot.
  • Sensor lingkungan berfungsi untuk mencatat keepatan udara dan ketinggian dari kursi lontar.
  • Vernier rocket berfungsi untuk mengatur keseimbangan kursi lontar, alat ini dipasangi giroskop.
  • Parasut.
  • Botol oksigen darurat.
  • Tirai pelindung muka yang berguna untuk melindungi kepala pilot selama proses ejection.
  • Sabuk pengaman.
  • Perekam data.
  • Underseat rocket, roket yang diletakan di bawah kursi lontar berfungsi menambah gaya angkat setelah catapult mengangkat pilot keluar kokpit.

Resiko penggunaan kursi lontar


Penggunaan kursi lontar itu sendiri tidak bisa sembarangan. Dalam penerbangan sangat ketat dalam prosedur-prosedurnya. Demikian juga dalam penggunaan kursi lontar. Prosedur yang salah dalam penggunaan kursi lontar, justru lebih meningkatkan resiko kecelakaan terhadap pilot, misalnya jika posisi tubuh tidak dalam keadaan benar. Jika tubuh dalam posisi membungkuk, maka kemungkinan besar akan mengakibatkan cedera atau patah tulang punggung.

Bail-out pesawat jet tanpa memakai goggle, sangat berbahaya. Geseran udara yang terjadi dapat menyebabkan kebutaan mata. Peristiwa semacam itu dialami oleh kapten Udara Edward White, seorang penerbang USAF yang bail-out dari pesawat tempur F-100 Super Sabre pada kecepatan mendekati 1 Mach, pada awal tahun 1960-an.

Ia mengalami kebutaan mata selama dua minggu, walaupun ia mengenakan goggle. Geseran udara yang sangat kuat juga menyebabkan cincin emas yang terlindung oleh sarung tangannya menjadi meleleh. Pada kursi lontar Martin Baker Mk.83 pada pesawat HS Hawk Mk.53, BAe Hawk.100 maupun Hawk.200 yang menggunakan sistem through canopy, yaitu kursi lontar meluncur ke luar dari kokpit dengan jalan menembus canopy, kemungkinan akan mengeluarkan serpihan yang dapat mencederai mata yang tidak dilindungi dengan goggle.

Bail out baru baru ini dilakukan oleh penerbang KT-1wong bee milik TNI AU yang kebetulan membawa Pangdam Udayana dalam joyflight nya. Kita tidak ingin menjadi paranormal karena alasan terjatuhnya pesawat militer tidak harus di publikasikan kepada publik. Namun, yang kita ambil pelajaran dari sebuah kecelakaan ialah proses bail out yang mengakibatkan penerbangnya terluka.

Tambahan dari bp.Wisnu Wijayanto:
Agar kursi lontar dapat melewati kanopi dengan aman itu ada beberapa metode:
(1) Menggunakan canopy jettisoning,
(2) dibantu dengan canopy fracturing system menggunakan MDC (miniature detonation cord) yg akan memecahkan kaca sebelum ejection seat terlontar,
(3) through cockpit dengan menggunakan spike di atas kursi (shell tooth). Untuk pesawat Hawk 109/209 milik TNI AU AFAIK menggunakan MDC.

sumber:
http://antasari.net
http://rajaraja.com
http://www.wikipedia.com
cerita penerbang tempur
gambar-gambar adalah dari sumber public domain.

disclaimer

Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com
Go to top