Pengetahuan umum penerbangan : Artikel - Teori Penerbangan - Pengetahuan umum penerbangan Menjadi Pilot : Teknik Penerbangan : Artikel -Teknologi Penerbangan - Teknik Penerbangan |
| Panduan memilih sekolah penerbang |
| Ditulis oleh Fadjar Nugroho | |||||||||||||||
| Senin, 02 Juni 2008 04:49 | |||||||||||||||
|
Tulisan ini kami terbitkan sehubungan dengan banyaknya pertanyaan pembaca mengenai sekolah penerbang. Bagian pertama mengenai sekolah penerbang di Indonesia. Sedangkan bagian selanjutnya adalah untuk memilih sekolah di luar negeri. Bagian untuk memlilih sekolah di dalam negeri juga berlaku pada bagian memilih sekolah di luar negeri. Tes penerimaan penerbang:Pada dasarnya tes yang diharuskan untuk menjadi penerbang adalah hanya tes kesehatan dan bahasa Inggris. Tapi dengan terbatasnya tempat yang tersedia di sekolah penerbang maka setiap sekolah di Indonesia pada waktu artikel ini ditulis mengadakan tes penerimaan yang biasanya berupa tes akademik (matematik, fisika, dll) termasuk bahasa Inggris dan mungkin juga tes psikologi serta tes bakat terbang (aptitude test). Bentuk tesnya tidak diatur dalam peraturan penerbangan jadi hubungi sekolah yang bersangkutan untuk mengetahui tes-tes tersebut jika ada. Materi tes akademik biasanya adalah pelajaran SMA. Sekolah penerbang bersubsidi pemerintah seperti STPI Curug dan TNI memberikan tes yang mungkin lebih banyak macamnya untuk mencari kadet penerbang terbaik yang akan dibiayai oleh pemerintah. Hal yang sama juga berlaku untuk sekolah penerbang bersubsidi (termasuk beasiswa) dari maskapai penerbangan baik milik pemerintah maupun swasta.
Mencari sekolah di Indonesia tidak mempunyai terlalu banyak pilihan. Tapi ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan untuk memilih sekolah:
Sekolah dengan sejarah yang lama membuktikan bahwa sekolah tersebut mampu bertahan dalam kondisi ekonomi yang buruk. Karena dalam sejarah pendidikan penerbang di Indonesia setahu penulis ada beberapa sekolah penerbang yang tidak bertahan, contohnya adalah Juanda Flying School di Surabaya dan Avindo di Jakarta. Tapi kriteria penilaian lain di bawah juga berpengaruh pada keputusan anda. Rasio antara jumlah siswa-instruktur Normalnya menurut penulis, seorang instruktur maksimal dapat terbang sehari selama 4 jam. Itupun sudah maksimal, 2-3 jam adalah ideal untuk mempertahankan staminanya.Jadi dengan asumsi satu siswa terbang satu jam sehari, maka maksimum yang bisa di bawa oleh instruktur sehari adalah 3 siswa. Ini adalah rasio yang ideal. 1 Instruktur- 3 orang siswa di satu waktu. Jadi dalam 1 batch/angkatan mungkin 1 instruktur dengan 6-8 siswa adalah maksimum.
Sedangkan rasio pesawat - siswa, dengan pengaturan yang baik, satu pesawat dapat melayani sampai 12 siswa. Dengan catatan pesawat terbang dari jam 5 pagi sampai jam 11 malam, dengan asumsi 1 jam terbang untuk seorang siswa dan 30 menit waktu pergantian antar siswa. Jadi kalau ada sekolah dengan 5 pesawat, maka secara ideal (Nyaris tidak mungkin terjadi di Indonesia) maksimum siswa yang terbang adalah 60 orang. Dalam kondisi normal jumlah ini cukup sulit untuk dicapai. Karena kondisi cuaca di Indonesia, 12 jam terbang sehari kadang-kadang tidak dapat dipenuhi karena hujan misalnya. Jadi menurut penulis, 1 pesawat 6-8 siswa di satu waktu adalah cukup ideal. Jadi kepiawain sekolah penerbang dalam penjadwalan penerimaan siswa, belajar di kelas dan belajar terbang bisa mensiasati rasio siswa:pesawat dan siswa:instruktur ini sehingga didapat penjadwalan yang maksimal. Mungkin bisa buat survei sederhana dengan bertanya pada siswa yang sedang menjalani pendidikan di sekolah tersebut. Lokasi sekolah Lokasi sekolah menentukan area terbang siswanya. Jika sekolah menempatkan pesawatnya di Bandar Udara Halim Perdana Kusumah, maka hampir dapat dipastikan jadwal penerbangan akan tersendat-sendat. Bandar udara ini adalah salah satu bandar udara yang cukup sibuk di Indonesia. Kegiatan penerbangan VIP juga berpusat di bandar udara ini. Lokasi lain yang cukup strategis adalah bandar udara Budiarto di Curug, Tangerang. Jika ada sekolah di kota lain bisa menjadi pilihan.
Setiap sekolah mempunyai pesawat yang berbeda-beda. Umur pesawat tidak terlalu berpengaruh pada keamanan penerbangan, karena selama pemeliharaan dilakukan dengan baik maka pendidikan akan berlangsung dengan aman. Jadi sejarah pemeliharan dapat sekilas dilihat dengan sejarah keamanan sekolah tersebut. Tentunya hal ini agak sulit dinilai jika sekolah tersebut baru berdiri. Alat bantu belajar dan kelas Kunjungan ke kelas dapat memberikan gambaran tentang kesiapan sekolah tersebut untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar. Alat bantu seperti misalnya radio komunikasi yang tersedia dan dapat menerima laporan cuaca bisa menjadi nilai tambah. Kenyamanan kelas juga dapat diperhatikan, seperti misalnya penggunaan penyejuk udara yang tidak berisik. Tanyakan jika buku-buku dan alat bantu termasuk dalam harga paket, atau siswa harus beli sendiri. Harga alat bantu navigasi penerbangan cukup mahal jika tidak termasuk dalam paket. Harga Penentuan harga untuk sebuah sekolah penerbang cukup mudah dilakukan karena sebenarnya sekolah “hanya” menyewakan pesawat dan instrukturnya, serta ruang kelas. Ujian baik tulis maupun ujian terbang juga merupakan komponen yang harus dibayar. Ada 3 komponen harga yang dihitung perjam, yaitu pesawat, instruktur dan ground school (belajar di kelas). Untuk menyelesaikan CPL seseorang harus menyelesaikan ground school, terbang sebanyak kira-kira 200 jam, dan beberapa jam terbang dengan instruktur. Jadi mintalah rincian berapa yang harus dibayar untuk masing-masing “komponen” tersebut dan bandingkan angka tersebut untuk masing-masing sekolah. Contohnya (semua nilai dan angka adalah khayalan!):
Biaya tambahan Siap-siap dengan biaya tambahan. Biaya akomodasi dan makan adalah salah satunya. Baju seragam biarpun tak seberapa, bisa menjadi tambahan yang mengejutkan. Banyak sekolah di luar negeri menyembunyikan biaya tambahan ini, bahkan biaya ujianpun tidak ditulis pada penawaran awal, sehingga terlihat murah. Memilih sekolah penerbang di luar negeriSelain faktor yang telah diterangkan di atas yang juga berlaku di sini, cara memilih sekolah di luar negeri akan tergantung pada negara mana yang akan didatangi. Berikut ini adalah contoh di USA, karena penulis mengikuti pendidikan penerbang di negara paman Sam ini. Biaya tak terduga Banyak cerita tentang biaya tak terduga yang ternyata cukup mahal, berikut ini adalah contohnya:
Imigrasi Tidak semua sekolah mendapat ijin untuk menerima siswa internasional. Tanyakan prosedurnya pada sekolah yang bersangkutan bandingkan dengan sekolah lain. Sekolah dengan ijin yang lebih tinggi, punya prosedur imigrasi yang lebih mudah dibandingkan dengan yang lain. Lokasi Seorang teman penulis menyelesaikan sekolahnya 4 kali lebih lama, karena cuaca yang tidak bersahabat di tempat dia belajar. Jarak pandang yang rendah sepanjang tahun menyebabkan pendidikannya terhambat. Cari tahu kondisi cuaca di lokasi sekolah tersebut. Instruktur yang nakal Biasanya instruktur hanya dibayar jika dia terbang dengan siswa. Selebihnya dia tidak dibayar. Jadi ada instruktur yang nakal yang tidak mau melepas siswanya terbang solo (terbang sendiri) karena akan kehilangan penghasilan. Hal ini merugikan siswa karena jam solonya akan berkurang.
|
|||||||||||||||
| Terakhir Diperbaharui Kamis, 19 April 2012 01:46 | |||||||||||||||